Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menggelar program edukasi literasi keuangan digital bagi mahasiswa melalui kegiatan bertajuk Infinity di lingkungan kampus. Program ini diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan diarahkan untuk mendorong generasi muda berperan sebagai agen perubahan dalam ekosistem finansial.
Inisiatif tersebut dilakukan sebagai respons atas tingginya adopsi layanan digital yang semakin menjadi bagian dari gaya hidup, termasuk dalam aktivitas pembayaran. Dalam kondisi ini, mahasiswa dinilai perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai pengelolaan instrumen keuangan modern agar terhindar dari paparan aktivitas ekonomi berisiko.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam memperkuat literasi. “Edukasi pastinya tidak bisa dilakukan secara parsial, sehingga amat diperlukan sebuah sinergi utuh dari seluruh pemangku kepentingan di lapangan. Peningkatan laju inklusi finansial di tanah air, mutlak harus selalu berjalan seiring dengan kualitas kecerdasan literasi para publik,” kata Firlie dalam siaran pers, Rabu (15/4/2026).
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 92,74%. Namun, tingkat literasi keuangan berada pada 66,46%. Kesenjangan tersebut menjadi salah satu alasan penguatan edukasi dinilai mendesak untuk dilakukan secara bersama.
Head of Business Development INDODAX, Felix Jonathan Siregar, menyebut tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman dasar, tetapi juga mencakup aspek keamanan dan pemahaman volatilitas pasar. “Mahasiswa wajib menguasai ilmu manajemen risiko secara matang, sekaligus mampu membangun pola pikir investasi mumpuni untuk jangka waktu yang panjang,” ujarnya.
Selain itu, kemudahan akses pinjaman digital turut membawa konsekuensi berupa penilaian risiko berbasis data profil pengguna. Rekam jejak transaksi disebut dapat memengaruhi peluang persetujuan layanan keuangan pada periode berikutnya.
Business Director Izi Data Indonesia, Ricko Marpaung, menilai hal tersebut kerap luput dari perhatian kalangan muda. “Mahasiswa masa kini sudah banyak yang menggunakan fasilitas pinjaman digital, hingga ragam layanan lain dengan basis sebuah sistem penilaian kredit. Sering kali hal ini kurang disadari oleh kaum muda, bahwa setiap keputusan finansial tersebut akan selalu tercermin dalam riwayat profil risikonya,” kata Ricko.
Dalam rangkaian kegiatan pengenalan inovasi keuangan di daerah, program ini juga melibatkan Bank Indonesia (BI) serta OJK Provinsi Jawa Tengah. Kolaborasi lintas lembaga tersebut dirancang untuk mendukung terciptanya iklim ekonomi digital yang sehat dan berkelanjutan.