Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan terus memperkuat agenda hilirisasi industri sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong daya saing industri dalam negeri di tengah dinamika perekonomian global.
Airlangga menyoroti ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang dinilai perlu diantisipasi. Ia mengatakan situasi tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi.
Meski demikian, Airlangga menyebut perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11 persen pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3 persen pada tahun ini, dengan inflasi yang terkendali serta tingkat kepercayaan konsumen yang masih berada pada level optimis. Surplus neraca perdagangan juga berlanjut, yang disebut mencerminkan fundamental eksternal yang solid.
Ia menjelaskan, ketahanan tersebut ditopang permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta struktur pembiayaan yang dinilai sehat dengan rasio utang luar negeri yang relatif rendah. Di sisi lain, sektor perbankan disebut tetap solid dengan likuiditas memadai dan permodalan kuat sehingga mampu menopang stabilitas sistem keuangan nasional.
Pemerintah, kata Airlangga, terus memperkuat bauran kebijakan untuk memitigasi berbagai risiko global. Dari sisi fiskal, penguatan APBN dilakukan melalui optimalisasi penerimaan, efisiensi belanja, serta refocusing anggaran ke sektor produktif.
Dari sisi moneter dan sektor keuangan, pemerintah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi pasar dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah juga mempercepat penyaluran stimulus fiskal, termasuk bantuan pangan dan program perlindungan sosial. Pada saat yang sama, ketahanan energi diperkuat melalui implementasi program biodiesel B50 dan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) guna meredam dampak gejolak global terhadap ekonomi domestik.
Airlangga juga menyampaikan pemerintah memperluas kerja sama internasional sebagai strategi diversifikasi risiko dan penguatan akses pasar. Sejumlah perjanjian perdagangan seperti Indonesia–EU CEPA, Indonesia–Canada CEPA, serta kerja sama dengan kawasan Eurasia disebut menjadi langkah untuk memperluas jangkauan ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Penguatan kerja sama bilateral, termasuk hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia, turut disebut mendukung ketahanan energi, industri, dan stabilitas ekonomi nasional. Pada sektor energi, pasokan minyak mentah dan LPG diamankan melalui skema pemerintah ke pemerintah (G2G) dan bisnis ke bisnis (B2B), dengan rencana pengembangan kontrak jangka panjang, infrastruktur penyimpanan, serta penjajakan kerja sama nuklir dan mineral.
Di bidang industri, kedua negara mendorong penguatan manufaktur dan hilirisasi sumber daya mineral untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Rusia juga disebut berkomitmen mendukung kepentingan strategis Indonesia, termasuk terkait aksesi ke BRICS dan konsultasi isu global. Kerja sama ekonomi diperluas melalui peningkatan perdagangan, investasi, serta pendalaman kerja sama moneter untuk memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara.
Selain itu, partisipasi Indonesia dalam berbagai forum internasional seperti AZEC disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi kawasan.