BERITA TERKINI
Airlangga: Risiko Resesi Indonesia Dinilai Rendah di Tengah Ketidakpastian Global

Airlangga: Risiko Resesi Indonesia Dinilai Rendah di Tengah Ketidakpastian Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia termasuk negara dengan risiko resesi yang rendah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Mengutip laporan Bloomberg, Airlangga menyebut peluang Indonesia mengalami resesi sekitar 5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan Brasil dan Cina yang masing-masing disebut sebesar 15%, serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30%.

Airlangga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih solid dan berbeda dibandingkan krisis 1998. Ia menyebut pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berada di level 5,11%, dengan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Untuk kuartal pertama tahun ini, pemerintah optimistis pertumbuhan berada di kisaran 5,5%.

Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi nasional ditopang kuatnya permintaan domestik yang berkontribusi hingga 54% terhadap PDB, serta dukungan ketahanan pangan dan energi.

Di sektor pangan, pemerintah mencatat capaian swasembada beras sejak 2025. Produksi beras disebut mencapai 34,7 juta ton, dengan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton per 8 April 2026. Pada sektor energi, pemerintah mendorong kebijakan B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak.

Airlangga juga menyampaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berperan sebagai peredam guncangan ekonomi. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan, sementara defisit disebut tetap terjaga di bawah 3% terhadap PDB.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia dilaporkan mencapai US$ 148,2 miliar atau setara enam bulan impor, yang dinilai menjadi bantalan terhadap tekanan eksternal.

Dari sisi pembiayaan, rasio utang pemerintah tercatat 40,46% terhadap PDB atau Rp 9.637,9 triliun. Airlangga menyebut mayoritas utang berasal dari dalam negeri, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 12,6%.

Ia menilai komposisi tersebut membuat risiko guncangan eksternal lebih terkendali. Dengan sejumlah indikator itu, Airlangga menyimpulkan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan memiliki daya tahan tinggi terhadap potensi resesi global.