MAKASSAR — Perkembangan layanan keuangan, terutama berbasis digital, membuat masyarakat kian mudah mengakses beragam produk seperti tabungan, pinjaman online, hingga investasi. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti pemahaman yang memadai mengenai cara mengelola keuangan secara bijak.
Dalam obrolan Teras UMKM di Pro 4 RRI Makassar, Asisten Manajer Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Nadhila Avissa, menyebut kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Ia menilai ada sejumlah faktor yang membuat masyarakat sudah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara pemanfaatannya.
Menurut Nadhila, faktor pertama adalah kemudahan akses terhadap produk keuangan, terutama layanan digital, yang mendorong masyarakat langsung menggunakan tanpa memahami secara mendalam. Ia menjelaskan, pesatnya perkembangan teknologi memang membuka peluang inklusi keuangan yang lebih luas, tetapi juga berisiko memicu kesalahan pengelolaan, seperti penggunaan kredit tanpa perencanaan atau investasi tanpa pemahaman risiko.
Faktor kedua, lanjut Nadhila, adalah edukasi keuangan yang dinilai masih terbatas menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Meski program literasi telah digencarkan oleh pemerintah dan lembaga terkait, penyebarannya disebut belum merata, terutama di daerah tertentu. Akibatnya, masih banyak masyarakat yang belum memperoleh edukasi keuangan secara komprehensif sehingga pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan tetap minim.
Adapun faktor ketiga berkaitan dengan kebiasaan atau perilaku keuangan yang belum terbentuk dengan baik. Nadhila menyoroti pola konsumsi impulsif serta kurangnya perencanaan keuangan sebagai penyebab rendahnya kualitas pengelolaan keuangan individu. Ia menekankan pentingnya membiasakan menabung, menyusun anggaran, dan memahami prioritas kebutuhan sejak dini.
Nadhila juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dunia pendidikan, dan masyarakat untuk mendorong peningkatan literasi keuangan. Edukasi yang berkelanjutan dan pendekatan yang sesuai karakter masyarakat diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya memiliki akses keuangan, tetapi juga cakap mengelolanya, sehingga mampu mengambil keputusan finansial lebih bijak dan mengurangi risiko kerugian.