PT Asuransi Asei Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat kinerja lini asuransi kredit. Direktur Utama Asei Dody Dalimunthe mengatakan perusahaan saat ini memprioritaskan penyeimbangan kembali (re-balancing) portofolio dengan menekankan kualitas risiko, bukan semata mengejar ekspansi volume.
Menurut Dody, Asei memperkuat proses underwriting berbasis data dan analitik (data-driven underwriting), serta melakukan diversifikasi sektor ekonomi untuk menekan konsentrasi risiko. Perusahaan juga memperkuat kerja sama dengan reasuradur, termasuk melalui skema pembagian risiko (risk sharing) yang dinilai lebih sehat.
Selain itu, Asei mendorong digitalisasi proses akuisisi dan pemantauan risiko, termasuk integrasi dengan sistem mitra perbankan. Dari sisi pengembangan produk, Asei menyatakan akan melakukannya secara lebih selektif, terutama untuk segmen ekspor dan supply chain financing.
Dody menambahkan, pendekatan tersebut ditujukan agar perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan premi, tetapi juga menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Ia menyebut lini asuransi kredit saat ini menjadi salah satu kontributor signifikan dalam portofolio bisnis Asei, sejalan dengan fokus perusahaan dalam pengembangan asuransi keuangan yang mendukung ekosistem perdagangan, baik ekspor maupun domestik.
Dalam ekosistem perdagangan, kebutuhan pembiayaan modal kerja kerap melibatkan perbankan. Karena itu, kreditur memanfaatkan asuransi kredit sebagai instrumen mitigasi risiko. Dody juga menyampaikan bahwa perlindungan asuransi dibutuhkan dalam transaksi perdagangan dan pengangkutan barang, hingga properti seperti gudang sebagai tempat transit, melalui produk asuransi yang disiapkan perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Asei mencatat pendapatan premi sebesar Rp 227,46 miliar per Februari 2026. Angka tersebut meningkat 622,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 31,47 miliar.