BERITA TERKINI
Australia dan Vietnam Perkuat Kerja Sama Fintech dan Perbankan Digital

Australia dan Vietnam Perkuat Kerja Sama Fintech dan Perbankan Digital

Australia dan Vietnam menjajaki penguatan kerja sama di bidang teknologi keuangan (fintech) dan teknologi regulasi (regtech) seiring percepatan transformasi digital sektor perbankan di Vietnam. Upaya ini difasilitasi melalui program yang diselenggarakan Badan Perdagangan dan Investasi Australia (Austrade), yang mempertemukan sembilan perusahaan fintech dan regtech asal Australia.

Program tersebut dimulai pada 14 April dan berlangsung selama tiga hari hingga 16 April, dengan rangkaian kegiatan dari Kota Ho Chi Minh dan ditutup di Hanoi. Selain mempromosikan perdagangan, kegiatan ini ditujukan untuk menghubungkan ekosistem keuangan kedua negara serta berkontribusi pada pengembangan sistem keuangan digital yang modern, aman, dan terintegrasi secara global.

Dalam rangkaian program ini, pelaku usaha Australia mempelajari lingkungan hukum serta tren transformasi digital di sektor perbankan Vietnam. Pada saat yang sama, mereka memperkenalkan solusi teknologi dan menjajaki peluang kolaborasi dengan mitra di Vietnam.

Vietnam disebut sebagai salah satu pasar fintech paling dinamis di kawasan. Pertumbuhan pembayaran digital, peningkatan adopsi layanan keuangan seluler, serta tren penerapan kecerdasan buatan dan big data dinilai membentuk fondasi yang mendukung perkembangan sektor tersebut.

Dengan populasi muda yang melek teknologi, ditambah kondisi ekonomi yang stabil dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang positif, Vietnam dipandang menarik bagi investor internasional. Kebijakan pemerintah juga dinilai berperan dalam mendorong ekosistem fintech, termasuk penerapan mekanisme pengujian terkontrol (sandbox) untuk bidang-bidang baru seperti pinjaman antar individu, penilaian kredit, serta berbagi data melalui API terbuka.

Selain itu, rencana pendirian pusat keuangan internasional di Vietnam disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi pasar keuangan negara tersebut di kawasan.

Dalam acara tersebut, Penasihat Senior Perdagangan dan Investasi Pemerintah Australia di Vietnam dan Kamboja, Emma McDonald, menyatakan program ini bertujuan membangun hubungan yang lebih substantif antara pelaku usaha kedua negara. Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah pusat keuangan tidak hanya ditentukan oleh modal atau infrastruktur, melainkan juga kemampuan membangun ekosistem keuangan berbasis data, memastikan inklusivitas, serta mengelola risiko secara efektif.

Australia disebut sebagai salah satu ekosistem fintech terkemuka, berada di peringkat ke-6 dunia dan ke-2 di kawasan Asia-Pasifik, dengan hampir 900 bisnis aktif. Kekuatan Australia antara lain pada teknologi manajemen kepatuhan, keamanan siber, tata kelola data, infrastruktur pembayaran, dan aset digital—bidang yang dinilai dibutuhkan Vietnam dalam transformasi digital perbankan.

Dari sisi pelaku usaha, CEO Ingenuous, Clint Mills, menilai Vietnam memiliki kondisi untuk berkembang menjadi pusat fintech dan regtech. Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi dan gelombang inovasi yang terjadi di Vietnam sebagai fondasi penting untuk mendorong kerja sama kedua negara.

Namun, Mills juga menyampaikan bahwa untuk menarik lebih banyak modal internasional, Vietnam perlu membangun kepercayaan melalui solusi keamanan data, memperkuat pencegahan kejahatan siber, serta mengembangkan infrastruktur komputasi awan. Menurutnya, kepercayaan menjadi prasyarat agar investor merasa aman untuk berpartisipasi di pasar.

Salah satu fokus program ini adalah pendekatan kolaboratif. Perusahaan Australia disebut tidak hanya datang untuk memamerkan produk, tetapi juga berpartisipasi dalam penguatan ekosistem keuangan di Vietnam. Model sandbox dipandang sebagai ruang untuk menguji, menyempurnakan, dan mengembangkan produk serta layanan baru, dengan tetap menjaga keseimbangan antara inovasi dan manajemen risiko.

Australia juga diposisikan sebagai mitra strategis yang dapat menjadi jembatan bagi Vietnam untuk mengakses ekosistem keuangan global. Solusi teknologi Australia, khususnya dalam pencegahan penipuan dan analisis data, dinilai dapat membantu bank-bank di Vietnam meningkatkan pemahaman terhadap pelanggan, menekan risiko, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Dalam pernyataan yang disampaikan pada acara tersebut, Bapak Hieu menegaskan bahwa pusat keuangan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur atau lokasi geografis, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan orang, teknologi, dan ide—faktor yang disebutnya menjadi kunci keberhasilan ekosistem keuangan di masa depan.

Di tengah persaingan global yang kian ketat, kerja sama Australia dan Vietnam di sektor fintech dan regtech dipandang tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga berkontribusi membentuk masa depan ekosistem keuangan di kawasan. Kolaborasi ini disebut sebagai langkah awal bagi Vietnam untuk mendekati ambisinya menjadi pusat keuangan yang berpengaruh di tingkat global.