BERITA TERKINI
BI: Kegiatan Dunia Usaha Triwulan I 2026 Melambat, SBT Turun ke 10,11 Persen Meski Ada Momentum Lebaran

BI: Kegiatan Dunia Usaha Triwulan I 2026 Melambat, SBT Turun ke 10,11 Persen Meski Ada Momentum Lebaran

Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 masih terjaga, namun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang tercatat 10,11 persen pada tiga bulan pertama 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 10,61 persen. Perlambatan terjadi meski terdapat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional, termasuk Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

BI menyatakan perkembangan ini sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada periode hari besar keagamaan. Selain itu, dimulainya musim panen komoditas pertanian turut memberikan kontribusi positif bagi kinerja usaha nasional.

Dalam survei tersebut, sektor jasa keuangan dan industri pengolahan menjadi lapangan usaha yang mencatatkan kinerja positif. BI juga mencatat kapasitas produksi terpakai pada awal tahun meningkat menjadi 73,33 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Dari sisi kondisi keuangan, BI menilai situasi dunia usaha secara umum masih berada pada level yang cukup baik. Likuiditas perusahaan disebut tetap terjaga, meskipun Saldo Bersih (SB) tercatat menurun menjadi 17,05 persen.

Untuk triwulan II 2026, BI memprakirakan kegiatan usaha akan meningkat dengan SBT diperkirakan mencapai 14,80 persen. Berlanjutnya musim panen komoditas pangan diproyeksikan menjadi penggerak utama sektor pertanian.

BI juga memproyeksikan sektor pertambangan tumbuh lebih kuat seiring menurunnya curah hujan di sejumlah wilayah produksi. Sementara itu, dimulainya pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur diperkirakan mendorong kinerja lapangan usaha konstruksi.

Survei yang melibatkan lebih dari 3.300 pelaku usaha ini memberikan gambaran optimisme terhadap stabilitas ekonomi domestik. Dalam periode hari raya, daya beli masyarakat dinilai menjadi bantalan penting bagi sektor perdagangan eceran.

Di sisi lain, pemerintah disebut terus memantau dinamika dunia usaha guna memastikan iklim investasi tetap kondusif di tengah ketidakpastian global. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga diarahkan untuk mendukung keberlanjutan pemulihan ekonomi.