Jakarta—Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian global dalam Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF–World Bank Spring Meetings) di Amerika Serikat.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan komitmen tersebut dijalankan melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas secara hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan.
Selain kebijakan moneter, BI juga menekankan sinergi dengan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Upaya itu mencakup komitmen mempertahankan defisit anggaran di bawah tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) serta realokasi belanja ke sektor produktif.
“Dalam jangka menengah, Indonesia terus mendorong arah transformasi struktural menuju sektor ekonomi yang bernilai tambah lebih tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” kata Perry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 19 April 2026.
Penegasan BI tersebut disampaikan sebagai respons atas sorotan IMF mengenai pentingnya langkah strategis otoritas untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global, sekaligus memastikan transformasi ekonomi memberikan manfaat bagi pertumbuhan.
IMF menilai perekonomian global masih menunjukkan ketahanan, namun menghadapi ketidakpastian yang semakin kompleks, terutama akibat perang di Timur Tengah. Di saat yang sama, perubahan besar di bidang teknologi, demografi, dan lingkungan dinilai memunculkan tantangan sekaligus peluang baru.
Salah satu perubahan yang disoroti adalah perkembangan akal imitasi (AI) yang dinilai berpotensi mendorong produktivitas dan kesejahteraan, tetapi juga dapat menimbulkan disrupsi di berbagai sektor seiring percepatan teknologi.
Dalam arah kebijakan yang disarankan, IMF menekankan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan yang jelas untuk mendukung efektivitas kebijakan moneter. IMF juga menyoroti perlunya menjaga stabilitas keuangan melalui penguatan pengawasan dan regulasi perbankan, serta mempertahankan kredibilitas kebijakan fiskal di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.
Selain itu, negara-negara didorong untuk mempercepat reformasi struktural, memperkuat ketahanan energi lewat diversifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan, serta mempererat kerja sama internasional.
IMF turut menekankan perlunya upaya bersama memperkuat jaring pengaman keuangan global, termasuk pemberian bantuan bagi negara anggota yang membutuhkan, serta peningkatan kapasitas IMF dalam menjalankan fungsi surveilans, pembiayaan, dan asistensi teknis.
Dalam pertemuan tersebut, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyepakati Global Policy Agenda sebagai langkah bersama untuk mengelola tekanan dan transformasi yang tengah berlangsung.