BERITA TERKINI
BTN dan KB Bank Masih Berupaya Menuntaskan Kredit Bermasalah Warisan Masa Lalu

BTN dan KB Bank Masih Berupaya Menuntaskan Kredit Bermasalah Warisan Masa Lalu

Sejumlah bank masih berupaya membersihkan aset bermasalah yang merupakan warisan dari portofolio masa lalu, meski kinerja operasional menunjukkan perbaikan. Dua di antaranya adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dan PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank), yang masing-masing masih menghadapi tantangan penyelesaian kredit macet lama.

BTN melanjutkan program penyelesaian kredit bermasalah melalui restrukturisasi, perbaikan, hingga penjualan aset. Hingga kuartal I-2026, rasio non performing loan (NPL) gross BTN tercatat 3,1%, menurun dibandingkan 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menyampaikan bahwa dari aktivitas penyelesaian kredit bermasalah tersebut, perseroan mampu menghasilkan recovery income sekitar Rp 800 miliar per tahun. Ia mengatakan tren penambahan NPL baru sudah menurun, namun tantangan terbesar masih berasal dari kredit bermasalah lama yang proses penyelesaiannya tidak mudah.

Menurut Nixon, kendala yang kerap muncul antara lain aset properti yang tidak memiliki sertifikat atau belum mengantongi izin sejak awal, sehingga sulit dijual. Ia menyebut persoalan semacam itu umumnya berasal dari kredit yang diberikan puluhan tahun lalu. Selain itu, BTN juga menghadapi kasus ketika debitur telah melunasi kredit, tetapi dokumen legal seperti sertifikat atau izin bangunan belum dapat diselesaikan. Nixon mengatakan setiap tahun terdapat ratusan ribu kasus yang dirapikan dan diselesaikan.

BTN juga mengandalkan penjualan aset bermasalah atau hapus buku (write-off) sebagai salah satu sumber pendapatan non-operasional. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan realisasi penjualan aset bulk sejauh ini masih sesuai target. Ia menyebut recovery dari penjualan aset—termasuk aset konsumer seperti rumah yang sudah macet dan dihapus buku—menjadi salah satu pendapatan non-operasional yang dinilai baik.

Setiyo menuturkan BTN secara konsisten membukukan recovery income sekitar Rp 800 miliar per tahun. Untuk tahun ini, BTN menargetkan recovery income meningkat ke kisaran Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun, atau tumbuh sekitar 15%–20% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun ia menekankan pertumbuhan tersebut dilakukan bertahap dan tidak bisa melonjak dalam waktu singkat.

Dalam mendorong penjualan aset, BTN mulai mengembangkan skema baru, salah satunya skema direct yang akan difokuskan pada aset komersial seperti hotel, mal, dan kondotel. Skema ini direncanakan dikemas dalam instrumen investasi seperti real estate investment trust (REITs) atau direct investment untuk ditawarkan ke pasar. BTN juga menggandeng investor baik untuk segmen properti komersial maupun konsumer, termasuk melalui kegiatan seperti gathering untuk menjaring investor aset konsumer.

Di sisi kualitas aset, BTN menargetkan NPL gross berada di kisaran 2,9% pada tahun ini.

Sementara itu, KB Bank juga masih menyimpan kredit macet yang merupakan warisan dari bank sebelumnya, Bank Bukopin, dengan nilai yang masih tergolong besar. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie membenarkan bahwa perseroan terus berupaya membersihkan portofolio tersebut. Per Desember 2025, rasio NPL gross KB Bank tercatat 9,97%.

Kunardy menjelaskan mayoritas NPL tersebut berasal dari portofolio masa lalu. Dengan total kredit Rp 44,39 triliun pada periode tersebut, nilai kredit macet mencapai sekitar Rp 4,43 triliun. Menurutnya, penyelesaian dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk restrukturisasi kredit serta penjualan aset atau kredit bermasalah.

Namun, Kunardy menegaskan proses penyelesaian dilakukan bertahap dengan tetap memperhatikan ketentuan regulasi, sehingga tidak dapat diselesaikan secara simultan. Ia juga menyampaikan bahwa per Desember 2025, NPL nett KB Bank berada di level 6,33%, yang disebut mencerminkan pencadangan telah dibentuk secara memadai.

Ke depan, KB Bank menargetkan penurunan portofolio kredit bermasalah dan rasio NPL secara bertahap dan berkelanjutan dibandingkan tahun sebelumnya. Strategi yang ditempuh tetap mengandalkan kombinasi restrukturisasi, penagihan intensif, serta optimalisasi penjualan aset bermasalah dengan pendekatan selektif dan prudent.