Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (17/4) seiring investor mengurangi posisi menjelang akhir pekan. Pelaku pasar menunggu perkembangan terbaru mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah sebelumnya sentimen pasar sempat menguat oleh ekspektasi perdamaian.
Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,4%, memutus tren penguatan tiga hari berturut-turut. Sikap hati-hati ini muncul setelah reli 10 hari pada ekuitas global yang sempat mendorong pasar ke rekor tertinggi, dengan sebagian pelaku pasar bertaruh meredanya ketegangan akan menekan harga minyak dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Di Wall Street, indeks utama juga ditutup pada level tertinggi sepanjang masa untuk hari kedua beruntun.
Di pasar komoditas, minyak mentah acuan global Brent turun 1,3% ke US$98,14 per barel, setelah Donald Trump menyatakan optimisme dapat mengamankan gencatan senjata permanen dengan Iran. Sementara itu, harga emas naik tipis, dan obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak relatif stabil.
Investor kini menantikan kemajuan konkret dalam pembicaraan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan jalur ini dinilai krusial untuk melancarkan aliran minyak mentah dan mengurangi tekanan ekonomi global yang meningkat sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Meski harga minyak mulai melandai dan saham sempat mencetak rekor, sejumlah ekonom mengingatkan pasar berpotensi masih meremehkan dampak ekonomi jangka panjang dari konflik tersebut.