CEO Bybit Ben Zhou menilai fase berikutnya dalam industri aset digital tidak lagi ditentukan oleh siklus harga atau tren jangka pendek. Dalam paparannya di Paris Blockchain Week 2026, ia mengatakan perubahan justru akan datang dari perombakan mendasar pada infrastruktur keuangan, yang didorong oleh konvergensi kecerdasan buatan (AI), aset terprogram, serta semakin jelasnya regulasi.
Zhou juga mempertanyakan cara konvensional pengguna berinteraksi dengan platform keuangan. Menurut dia, ke depan pengguna kemungkinan tidak perlu lagi berinteraksi langsung dengan platform karena tugas-tugas dapat didelegasikan kepada agen AI.
“Kami telah memperkenalkan akun agen AI agar pengguna dapat membuat sub-akun bagi AI yang akan berinteraksi, mengeksekusi strategi, dan mengakses data pasar,” ujar Zhou. Ia menambahkan, transaksi pembayaran berbasis agen AI atau agentic payments berpotensi menjadi tren besar, meski saat ini masih berada pada tahap awal.
Dalam penjelasannya, Zhou menggambarkan agen AI sebagai sistem yang dapat membaca data, mengambil keputusan, dan mengoptimalkan hasil secara langsung. Saat ini, pemanfaatannya disebut masih berfokus pada kemampuan analisis dan akses data, namun ia melihat peran tersebut berpotensi berkembang hingga merombak proses eksekusi transaksi. Implikasi lanjutannya, antarmuka teknologi akan semakin “menghilang” dan digantikan oleh teknologi cerdas yang bekerja di balik layar.
Di sisi lain, Zhou menyoroti perubahan yang dinilainya lebih tersembunyi namun signifikan: lembaga keuangan konvensional mulai mengadopsi blockchain sebagai infrastruktur, bukan semata masuk lewat spekulasi aset kripto. Ia menyebut stablecoin muncul sebagai jembatan yang mempercepat transaksi pembayaran, membuat penyelesaian transaksi lebih efisien, serta menyediakan akses likuiditas global.
Menurut Zhou, dalam banyak kasus institusi-institusi tersebut menyusun perencanaan di atas fondasi kripto tanpa secara eksplisit mengadopsi label “kripto”. Ia menilai tren ini dapat menjadi titik balik karena kripto tidak lagi diposisikan sebagai sistem alternatif, melainkan mulai menjadi bagian dari fondasi utama.
Zhou menekankan bahwa tantangan terbesar sekaligus peluang utama bukan pada sisi teknologi, melainkan kepercayaan. Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir kerangka regulasi semakin jelas dan sejumlah wilayah dinilai membuka ruang inovasi sekaligus menyediakan jalur pertumbuhan yang lebih terstruktur.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kerangka regulasi kini semakin jelas. Wilayah seperti Uni Emirat Arab menjadi pelopor dengan membuka ruang inovasi dan menyediakan jalur pertumbuhan terstruktur,” kata Zhou. Ia menilai kejelasan regulasi—mulai dari pendekatan terstruktur di Eropa hingga dinamika kebijakan di Amerika Serikat dan Inggris—tidak lagi menjadi hambatan, melainkan katalis. Menurutnya, ketika aturan semakin jelas, institusi akan mengikuti, dan ketika institusi masuk, sistem akan semakin matang.
Menutup paparannya, Zhou menyampaikan bahwa tujuan akhirnya bukan menggantikan sistem keuangan yang sudah ada, melainkan menyempurnakannya. Ia menyebut visi yang ingin dibangun adalah infrastruktur yang membuat layanan keuangan lebih mudah diakses, efisien, dan intuitif bagi pengguna di berbagai negara.
Dalam gambaran masa depan tersebut, pengguna tidak lagi perlu memikirkan blockchain, dompet digital, atau platform. Layanan keuangan berjalan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, sementara teknologi cerdas bekerja di belakang layar dan kepercayaan tertanam dalam sistem.