Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik, tekanan inflasi, dan fluktuasi pasar keuangan mendorong banyak negara memperkuat fondasi ekonominya. Indonesia merespons situasi tersebut dengan memperkuat instrumen investasi strategis, salah satunya melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) dirancang untuk mengelola aset negara secara optimal dengan pendekatan profesional, transparan, dan berorientasi jangka panjang. Perannya diarahkan untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi nasional, terutama melalui pengelolaan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih efisien dan produktif, sekaligus mencerminkan pergeseran pendekatan pembangunan dari berbasis konsumsi menuju investasi dan industrialisasi.
Dalam konteks global, lembaga pengelola investasi negara kerap menjadi penyangga stabilitas ekonomi. Indonesia menempatkan Danantara sebagai instrumen strategis untuk meredam dampak gejolak eksternal sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru. Fleksibilitas strategi dipandang penting untuk merespons perubahan cepat, termasuk tekanan pasar dan risiko geopolitik.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Danantara menyelaraskan kembali strategi investasinya. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan penyesuaian strategi menargetkan sektor-sektor kunci yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Menurutnya, gejolak geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, telah meningkatkan biaya modal dan risiko investasi di tingkat global maupun domestik.
Untuk memastikan portofolio tetap tangguh, Danantara melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap seluruh portofolio investasinya dengan tujuan menjaga profitabilitas dalam situasi krisis. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas investasi nasional di tengah berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
Tekanan pada pasar keuangan domestik juga menjadi perhatian. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dan ditutup di zona merah pada 7 April 2026, Danantara tetap aktif bertransaksi. Pandu Sjahrir menjelaskan pihaknya menyiapkan dana cadangan khusus untuk investasi di pasar modal domestik melalui sejumlah manajer investasi, sebagai upaya menjaga likuiditas pasar sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
Selain pasar keuangan, Danantara juga menaruh perhatian pada sektor riil. Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa meski terjadi penurunan trafik di beberapa bandara akibat terhentinya sejumlah rute penerbangan internasional, kondisi tersebut dipastikan tidak mengganggu operasional bandara secara signifikan. Pemerintah disebut terus memantau situasi dengan prioritas menjaga stabilitas perekonomian masyarakat dari dampak gangguan global.
Pernyataan tersebut menegaskan pengelolaan sektor strategis tetap berjalan secara terkendali meski menghadapi tekanan eksternal. Stabilitas layanan publik dan aktivitas ekonomi dipandang menjadi indikator penting daya tahan sistem ekonomi nasional.
Ke depan, Danantara memfokuskan investasi pada sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, dan ketahanan pangan. Upaya hilirisasi sumber daya alam juga terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Di sisi pembiayaan, pendekatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai memberi ruang fiskal lebih fleksibel. Kemampuan Danantara menarik investasi swasta, baik dari dalam maupun luar negeri, disebut dapat menciptakan efek pengganda bagi perekonomian.
Di tengah dinamika global yang terus berubah, ketahanan ekonomi tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan berkembang. Melalui penguatan investasi strategis dan pengelolaan risiko yang terukur, Danantara diposisikan sebagai bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.