Prof. Dr. Husnah, SE., M.Si resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Akuntansi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako. Pengukuhan tersebut disertai orasi ilmiah yang menyoroti peran keputusan keuangan dalam mendorong keberlanjutan global di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dalam orasi bertajuk “Financial Trigger Menuju Sustainability Global di Era Geopolitik” yang disampaikan di Gedung Aula Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad), Rabu (15/4/2026), Husnah menyebut dunia saat ini menghadapi kondisi polycrisis, yakni berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan. Krisis tersebut meliputi krisis energi, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga ketidakstabilan ekonomi global.
Menurutnya, situasi itu memberikan tekanan besar terhadap sistem ekonomi global, ditandai dengan meningkatnya volatilitas pasar, risiko sistemik, serta tekanan likuiditas. Ia juga menegaskan ketergantungan pada energi impor dapat menjadi beban finansial jangka panjang bagi suatu negara jika tidak dikelola dengan baik.
“Keuangan tidak lagi sekadar alat pencatatan, tetapi telah menjadi pemicu utama keberlanjutan,” ujar Husnah dalam orasinya.
Ia memperkenalkan konsep financial trigger toward sustainability, yaitu gagasan bahwa kebijakan dan keputusan keuangan dapat menjadi titik awal transformasi menuju pembangunan berkelanjutan. Konsep tersebut mencakup instrumen seperti kebijakan fiskal progresif, investasi hijau (green investment), pembiayaan berbasis ESG, obligasi hijau (green bonds), serta keuangan berkelanjutan.
Husnah menekankan, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan finansial, tetapi juga perlu ditopang tanggung jawab sosial dan kemampuan organisasi dalam mengelola sumber daya. Ia merujuk pada teori Resource-Based View (RBV) yang menyatakan keunggulan kompetitif ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak tergantikan.
Dalam konteks Indonesia, ia menyebut potensi energi terbarukan seperti energi surya, air, dan biomassa sebagai peluang besar. Namun, tantangan utamanya terletak pada kemampuan mengelola potensi tersebut agar menjadi kekuatan finansial strategis.
Ia juga memaparkan hasil penelitiannya yang menunjukkan kinerja keuangan organisasi dipengaruhi oleh integrasi sumber daya berwujud dan tidak berwujud, dinamika lingkungan, serta strategi kompetitif. Integrasi tersebut, menurutnya, dapat menjelaskan lebih dari 80 persen variasi kinerja keuangan.
Selain itu, Husnah menilai Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki peran penting sebagai instrumen legitimasi sosial, manajemen risiko, serta penghubung antara profitabilitas dan risiko.
Dalam kesimpulannya, ia menyebut keberlanjutan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni sumber daya keuangan, kapabilitas organisasi, dan tanggung jawab strategis. Ketiganya, kata dia, perlu terintegrasi untuk menciptakan sistem yang adaptif terhadap perubahan global.
Ia merekomendasikan penguatan financial trigger, optimalisasi sumber daya lokal, peningkatan investasi berkelanjutan, serta pembangunan sistem ekonomi yang tangguh bagi generasi mendatang.
Pengukuhan Guru Besar tersebut menjadi tonggak dalam perjalanan akademik Prof. Husnah sekaligus kontribusi dalam pengembangan ilmu manajemen keuangan yang dinilai relevan dengan tantangan global saat ini.