Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% sepanjang 2025. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 5,03%, sekaligus berada di atas rata-rata pertumbuhan global yang diperkirakan berkisar 2,6%–3,3%.
Kinerja tersebut muncul ketika perekonomian global masih menghadapi tekanan suku bunga tinggi, konflik geopolitik, serta perlambatan perdagangan internasional. Dalam situasi itu, pertumbuhan Indonesia dinilai menunjukkan ketahanan yang relatif kuat, termasuk di antara negara berkembang dan dalam kelompok G20.
Sejumlah negara menghadapi risiko stagnasi hingga resesi, sementara Indonesia tetap berada pada jalur ekspansi yang stabil. Salah satu faktor penopang utamanya adalah struktur ekonomi yang bertumpu pada pasar domestik, sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Dari sisi penggerak pertumbuhan, konsumsi rumah tangga—kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB)—tumbuh di kisaran 4,98%–5,11%. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga menunjukkan akselerasi, dengan pertumbuhan 6,12% pada kuartal IV 2025. Sementara itu, ekspor tetap mencatat pertumbuhan positif 7,03% secara tahunan, meski permintaan global melemah.
Secara ukuran ekonomi, nilai PDB Indonesia tercatat sekitar Rp23.821 triliun. PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau sekitar USD 5.083, yang menggambarkan daya beli masyarakat yang dinilai tetap terjaga.
Ketahanan ekonomi turut didukung stabilitas sektor keuangan. Inflasi disebut relatif terkendali, likuiditas perbankan terjaga, dan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di kisaran 2,24%. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha di tengah ketidakpastian global.
Di pasar saham, sektor perbankan dan konsumsi disebut menjadi perhatian seiring pertumbuhan kredit dan daya beli yang stabil. Selain itu, sektor infrastruktur dan logistik dinilai memiliki potensi sejalan dengan peningkatan investasi dan mobilitas ekonomi. Sektor-sektor tersebut dipandang sebagai pilihan yang relatif defensif namun tetap berpeluang bertumbuh.
Dengan pertumbuhan yang konsisten di atas 5%, ketergantungan yang lebih rendah terhadap ekspor, serta stabilitas makroekonomi, Indonesia juga mulai dipandang sebagai safe haven relatif di kalangan emerging market. Faktor-faktor itu mendorong Indonesia semakin dilirik sebagai tujuan alokasi investasi, terutama saat risiko di negara lain meningkat.
Dari sisi struktur, konsumsi domestik tetap menjadi tulang punggung. Sektor jasa juga mencatat pertumbuhan tinggi hingga 9,93%. Secara regional, Pulau Jawa masih mendominasi kontribusi terhadap PDB nasional dengan porsi 56,93%, mencerminkan pusat aktivitas ekonomi yang tetap kuat.
Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 5,2%–5,4%, dengan dukungan konsumsi domestik yang stabil dan investasi yang terus tumbuh. Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu dicermati, antara lain pelemahan ekonomi global yang dapat menekan ekspor, volatilitas nilai tukar rupiah, serta ketergantungan pada stimulus fiskal.
Data terbaru menunjukkan Indonesia belum sepenuhnya kebal terhadap dampak krisis global, namun memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat dibanding banyak negara lain. Dengan pertumbuhan yang stabil dan fundamental yang dinilai solid, Indonesia mempertahankan posisinya sebagai salah satu titik pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi dunia.