Nilai ekspor Provinsi Gia Lai pada kuartal pertama 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$1,067 miliar, turun 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total tersebut, wilayah timur menyumbang lebih dari US$532 juta atau naik 16,9%, sementara wilayah barat mencapai US$535,3 juta namun turun 17,4%.
Di tengah kinerja ekspor yang cenderung melambat, industri pengolahan kayu dan produk kayu menjadi salah satu sektor yang menonjol. Industri ini disebut tetap memainkan peran penting sebagai pilar ekonomi provinsi, dengan kontribusi sekitar 16% terhadap nilai produksi industri. Pertumbuhan yang terjadi juga dinilai tidak semata didorong kenaikan volume, melainkan pergeseran ke lini produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pada kuartal I 2026, produksi furnitur kayu meningkat 6,09% dan omzet ekspornya naik 19,6%. Sementara itu, kelompok furnitur rotan mencatat kenaikan produksi 33,08% dan peningkatan omzet ekspor 40,5%. Perkembangan tersebut menggambarkan kecenderungan pelaku usaha beralih dari pertumbuhan berbasis kuantitas menuju pertumbuhan berbasis nilai.
Pendorong kenaikan di industri kayu dalam periode ini disebut terutama berasal dari penyelesaian dan pengiriman kontrak yang telah ditandatangani sejak akhir 2025. Dari sisi pasar, pemberlakuan kembali tarif impor dasar 10% oleh Amerika Serikat setelah penyesuaian kebijakan tarif timbal baliknya dinilai membantu barang Vietnam mempertahankan daya saing dibandingkan sejumlah negara lain. Kondisi ini turut menurunkan risiko pembatalan pesanan, terutama bagi perusahaan skala besar yang memiliki rantai pasok stabil dan kemitraan jangka panjang.
Di segmen bahan baku, produksi serpihan kayu dan pelet kayu meningkat 6,37%, sedangkan ekspor naik sekitar 11,1%. Namun, tekanan biaya disebut menggerus keuntungan karena harga input naik sementara harga jual cenderung turun. Situasi ini membuat sejumlah perusahaan beroperasi pada kapasitas yang lebih rendah. Meski demikian, pasar ekspor pelet kayu ke Jepang dan Korea Selatan dilaporkan tetap stabil.
Di Gia Lai terdapat 40 pabrik pengolahan serpihan kayu dengan total kapasitas 3,6 juta ton per tahun serta 45 pabrik produksi pelet kayu dengan total kapasitas 4,2 juta ton per tahun. Harga serpihan kayu berfluktuasi pada kisaran 130–150 USD per ton. Untuk pelet kayu, pelet putih berada di kisaran 145–170 USD per ton, sedangkan pelet kayu hitam mencapai sekitar 500 USD per ton atau sekitar 3,5 kali lebih tinggi.
Pemerintah provinsi mengidentifikasi kebutuhan untuk memaksimalkan efisiensi pabrik yang sudah ada, khususnya produsen pelet kayu, sembari mendorong pelaku usaha beralih dari produksi serpihan kayu ke produk olahan dan furnitur bernilai tambah tinggi. Upaya penurunan biaya produksi juga dilakukan melalui optimalisasi operasi dan akses program promosi industri untuk peningkatan peralatan hemat energi. Pada 2026, industri kayu menargetkan pendapatan ekspor US$1,22 miliar, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, lingkungan perdagangan internasional dinilai menghadirkan peluang sekaligus tekanan. Setelah penyesuaian, tarif impor rata-rata barang Vietnam ke Amerika Serikat disebut sekitar 16%, turun dari lebih dari 21% sebelumnya, sehingga tarif menjadi lebih mendekati negara lain. Namun, penerapan tarif sementara 10% pada sejumlah sektor ekspor utama seperti kayu, tekstil, makanan laut, dan produk pertanian masih dinilai memberi dampak tertentu.
Konflik di Timur Tengah juga memunculkan risiko kenaikan biaya transportasi dan energi dalam waktu dekat. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar mendorong biaya logistik meningkat, yang dapat menaikkan harga ekspor ke pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa serta menekan margin keuntungan perusahaan.
Direktur Jenderal Quicornac Co., Ltd. Luu Quoc Thanh menyampaikan bahwa risiko tidak hanya berasal dari biaya, tetapi juga ketidakpastian rantai pasok, termasuk waktu pengiriman yang panjang, kelangkaan kapal pada periode puncak, serta biaya logistik yang sulit diprediksi. Ia juga menilai perubahan kebijakan perdagangan dan pergeseran permintaan konsumen global membuat pelanggan lebih berhati-hati dan sensitif terhadap harga, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan strategi persediaan dan penetapan harga.
Menurut Thanh, untuk mempertahankan daya saing ekspor buah olahan, perusahaannya menempatkan diversifikasi pasar dan reposisi nilai produk sebagai prioritas. Quicornac berfokus pada wilayah dengan pertumbuhan permintaan bahan baku alami yang kuat seperti Amerika Utara, Eropa, serta pasar potensial di Asia, sambil memprioritaskan segmen pelanggan yang menuntut kualitas konsisten, pasokan berkelanjutan, dan kepatuhan pada standar internasional.
Wakil Direktur Departemen Perindustrian dan Perdagangan Nguyen Dinh Kha menyatakan biaya transportasi dapat meningkat 15–25% dibandingkan sebelumnya. Selain itu, barang berpotensi lebih lama berada di pelabuhan transit, memicu biaya penyimpanan tambahan dan memengaruhi jadwal pengiriman. Menurutnya, faktor-faktor tersebut berdampak langsung pada harga dan daya saing produk, sementara daya beli di banyak pasar disebut belum pulih sepenuhnya.
Dalam kondisi tersebut, Kha menekankan penentu utama berada pada kapasitas internal perusahaan, mulai dari kualitas produk, standar produksi, ketertelusuran, hingga pemenuhan persyaratan pengurangan emisi. Otoritas terkait mendorong perusahaan mendiversifikasi sumber pasokan, memperluas pasar ekspor, proaktif mencegah risiko, serta berkoordinasi dengan unit-unit Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dan Kantor Perdagangan Vietnam di luar negeri untuk mencari pesanan.