Negara-negara G20 dan BRICS menyepakati penguatan kerja sama internasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengatasi ketidakseimbangan global. Kesepakatan ini mengemuka dalam Pertemuan Pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di bawah presidensi Amerika Serikat, serta Pertemuan Kedua Deputi BRICS di bawah Presidensi India 2026.
Delegasi Indonesia dalam rangkaian pertemuan tersebut dipimpin Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa. Keduanya juga mengikuti pertemuan Spring Meetings 2026 IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Washington D.C., Amerika Serikat.
Dalam forum G20, Perry menekankan pentingnya memperhatikan neraca finansial (financial account) dalam menilai ketidakseimbangan global. Menurutnya, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada neraca transaksi berjalan (current account).
“Ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini jauh lebih berisiko ke stabilitas perekonomian global,” kata Perry, dikutip Jumat, 17 April 2026.
Perry menyampaikan tiga respons kebijakan yang diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan mengatasi ketidakseimbangan global. Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedua, mendorong reformasi struktural. Ketiga, menerapkan kebijakan perdagangan yang terbuka.
Sementara itu, dalam pertemuan BRICS, negara-negara anggota menyepakati penguatan kerja sama “South-South” untuk menghadapi berbagai tantangan, terutama meningkatnya fragmentasi geopolitik, keterbatasan pembiayaan, serta kerentanan makrofinansial yang memengaruhi negara-negara berkembang.
Penguatan kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui pembentukan Task Force on Growth and Development (TFGD). Perry menyebut bank sentral negara BRICS juga sepakat memperkuat kolaborasi di sejumlah area strategis.
Area yang dimaksud mencakup sistem pembayaran, artificial intelligence, keamanan siber, dan teknologi finansial, serta pembentukan jaring pengaman keuangan internasional guna mendukung pertumbuhan.