BERITA TERKINI
Gen Z Dominasi Investor Kripto di Tokocrypto, OJK Ingatkan Risiko FOMO

Gen Z Dominasi Investor Kripto di Tokocrypto, OJK Ingatkan Risiko FOMO

Pertumbuhan penggunaan aset kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif, dengan generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial muda—disebut menjadi penggerak utama adopsi. Tren ini mengemuka dalam kegiatan Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 di Universitas Sebelas Maret, Solo, yang merupakan kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), dan Tokocrypto.

Merujuk Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, sebanyak 93% responden dilaporkan sudah familiar dengan aset kripto. Lebih dari separuh responden disebut berasal dari Gen Z yang aktif menjadikan kripto bagian dari percakapan finansial sehari-hari di media digital dan komunitas online. Fenomena ini mempertegas peran generasi muda dalam pertumbuhan ekosistem kripto di Indonesia.

Namun, OJK mengingatkan bahwa tingginya partisipasi generasi muda tidak selalu sejalan dengan kematangan literasi finansial. Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital (IAKD) OJK Dino Milano Siregar menilai keterlibatan Gen Z di pasar kripto tidak selalu didasarkan pada pertimbangan investasi yang rasional, melainkan turut dipengaruhi dinamika sosial di ruang digital.

“Partisipasi yang tinggi ini perlu kita lihat secara lebih kritis. Tidak semua didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh faktor social learning, peer influence, hingga fear of missing out atau FOMO yang sangat kuat di kalangan generasi muda,” ujar Dino dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4). Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi regulator dan pelaku industri untuk memperkuat edukasi agar investor memahami risiko, memiliki strategi, dan mampu mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak.

Dari sisi platform, Business Development & Research Lead Tokocrypto Indriana menyebut Gen Z menunjukkan karakteristik berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, Gen Z cenderung lebih aktif dan memiliki risk appetite lebih tinggi, dengan kecenderungan cepat mengambil keputusan saat melihat peluang dari tren pasar. Meski demikian, ia menilai ada perkembangan positif berupa meningkatnya literasi, termasuk diversifikasi aset dan pengelolaan portofolio yang lebih strategis.

Data internal Tokocrypto mencatat 26,9% investor berada pada rentang usia 18–24 tahun dan 35,1% pada usia 25–30 tahun. Dengan demikian, lebih dari 60% pengguna platform tersebut didominasi generasi muda. Kelompok Gen Z juga disebut menjadi segmen dengan aktivitas transaksi paling tinggi di Tokocrypto.

Rata-rata nilai deposit Gen Z berada pada kisaran Rp100.000 hingga Rp500.000, yang dinilai mencerminkan pola investasi konsisten meski nominalnya relatif terjangkau. Selain itu, Gen Z juga mendominasi kategori first trader, yakni pengguna yang baru memulai aktivitas trading di platform. Sebagai digital native, mereka cenderung mengandalkan media sosial, komunitas, dan influencer dalam mengambil keputusan investasi.

Indriana menambahkan, peran platform exchange tidak hanya sebagai fasilitator transaksi, tetapi juga penggerak edukasi. Tokocrypto, kata dia, menjalankan berbagai inisiatif seperti Tokocrypto Academy, Weekly Research, webinar, workshop, serta kolaborasi dengan kampus. Tokocrypto juga mengembangkan program edukasi berbasis komunitas OBRAS (Obrolan Komunitas) yang disebut telah menjangkau lebih dari 50 kota dengan total partisipasi lebih dari 200 ribu orang sepanjang 2025.

Selain edukasi, Tokocrypto menghadirkan fitur seperti Dollar Cost Averaging (DCA), staking, dan convert untuk membantu pengguna membangun strategi investasi jangka panjang yang lebih disiplin. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi perilaku spekulatif dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih terukur.

Dominasi Gen Z dalam adopsi kripto juga disorot sebagai fenomena global. Studi Protocol Theory, sebagaimana disebut dalam paparan, menunjukkan generasi muda di Amerika Serikat memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi terhadap kripto dibanding institusi keuangan tradisional. Dalam studi itu, 22% Gen Z disebut lebih mempercayai kripto dalam menjaga aset mereka, dibanding 13% pada Gen X dan 5% pada baby boomers.

Indriana menilai pola serupa mulai terlihat di Indonesia, terutama dari cara Gen Z memandang kepemilikan aset. Menurutnya, Gen Z cenderung ingin kendali langsung dan transparansi dalam memantau pergerakan aset, sehingga kripto menjadi menarik karena memberi akses dan rasa kontrol yang tidak mereka rasakan pada sistem keuangan konvensional.

Di sisi lain, laporan World Economic Forum juga disinggung menyoroti tekanan ekonomi seperti stagnasi pendapatan dan meningkatnya biaya hidup yang mendorong sebagian Gen Z mencari alternatif investasi yang lebih berisiko, termasuk kripto. Indriana menekankan, tingginya ketertarikan perlu diimbangi pemahaman yang kuat agar keputusan investasi tidak terlalu reaktif terhadap tren dan lebih berbasis strategi jangka panjang.