Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan tiga langkah utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global di tengah meningkatnya risiko ketidakseimbangan ekonomi dunia. Menurutnya, ketidakseimbangan global saat ini tidak hanya berasal dari sektor riil, tetapi juga dari sisi keuangan yang dinilai lebih berisiko terhadap stabilitas.
Pernyataan tersebut disampaikan Perry dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) G20 yang digelar dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings 2026 di Washington D.C., Amerika Serikat.
Dalam keterangan tertulis pada Jumat (17/4), Perry menyebut tiga respons kebijakan yang diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengatasi ketidakseimbangan global. “Diperlukan tiga respons kebijakan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi global imbalances. Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedua, mendorong reformasi struktural. Ketiga, menerapkan kebijakan perdagangan yang terbuka,” ujarnya.
Dalam forum G20 tersebut, negara-negara juga mendorong upaya pertumbuhan ekonomi melalui deregulasi, penguatan ketahanan energi, serta percepatan inovasi teknologi, termasuk pengembangan artificial intelligence (AI).
Selain menghadiri agenda G20, Perry juga mengikuti pertemuan BRICS di bawah presidensi India. Dalam forum itu, negara-negara anggota sepakat memperkuat kerja sama antarnegara berkembang atau “South-South cooperation” untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Kerja sama yang dibahas mencakup pembentukan Task Force on Growth and Development (TFGD), serta penguatan sektor-sektor strategis seperti sistem pembayaran, keamanan siber, teknologi finansial, hingga jaring pengaman keuangan global.
Di sela rangkaian agenda, Perry juga melakukan pertemuan bilateral dengan pejabat Federal Reserve, Michael S. Barr. Pertemuan tersebut membahas perkembangan ekonomi global, ketahanan energi, serta digitalisasi sistem pembayaran.