Harga minyak dunia dilaporkan turun tajam, sementara pasar saham Amerika Serikat (AS) menguat hingga mencetak rekor baru setelah Iran menyatakan kembali membuka Selat Hormuz untuk pengiriman minyak global. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya meningkat akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan yang dikutip dari AP, kelancaran kembali arus distribusi minyak dinilai berpotensi menahan lonjakan harga energi. Dampaknya juga diperkirakan dapat merembet ke harga kebutuhan lain, termasuk bahan pangan dan biaya logistik.
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 naik 1,2 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. Penguatan ini sekaligus menandai tiga pekan beruntun kenaikan, yang disebut sebagai periode penguatan terpanjang sejak akhir Oktober.
Indeks Dow Jones Industrial Average sempat melonjak hingga 1.100 poin sebelum akhirnya ditutup naik 868 poin atau 1,8 persen. Sementara Nasdaq Composite menguat 1,5 persen.
Penguatan tersebut memperpanjang reli pasar saham AS, yang telah naik lebih dari 12 persen sejak titik terendah pada akhir Maret. Optimisme investor didorong harapan bahwa AS dan Iran dapat menghindari skenario terburuk bagi ekonomi global di tengah konflik yang berlangsung.
Sinyal positif juga menguat setelah Presiden Donald Trump pada Kamis malam menyatakan bahwa perang tersebut “seharusnya segera berakhir”.
Dari sisi energi, koreksi harga minyak terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan melalui platform X bahwa jalur Selat Hormuz kini “sepenuhnya terbuka” bagi semua kapal komersial. Ia menegaskan pembukaan itu berlaku selama periode gencatan senjata yang sedang berlangsung.