Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (17/4/2026) pagi. IHSG naik 24,43 poin atau 0,32 persen ke posisi 7.645,81.
Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 1,16 poin atau 0,15 persen ke level 758,48.
Pakar saham Maximilianus Nico Demus menilai penguatan pada awal perdagangan dipengaruhi perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski demikian, ia memperkirakan pergerakan IHSG masih berpotensi melemah terbatas.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.500-7.850. Potensi menguat ada namun terbatas,” ujar Nico.
Dari luar negeri, Presiden AS Donald Trump menyatakan AS telah mencapai kesepakatan dengan Iran dan pembicaraan akan berlanjut pada akhir pekan. Trump juga mengklaim tanpa bukti bahwa Iran menyetujui persyaratan terkait nuklir, termasuk tidak memiliki senjata nuklir, serta akan melakukan pembukaan Selat Hormuz.
Trump juga menyetujui Israel dan Lebanon untuk melakukan gencatan senjata selama 10 hari guna meredakan ketegangan kawasan. Ia disebut akan mengundang Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk berdiskusi dalam sepekan mendatang.
Dari Eropa, tekanan inflasi disebut mulai bergerak naik seiring konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global. Kondisi itu turut memengaruhi proyeksi kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB), yang sebelumnya diperkirakan memangkas suku bunga dua kali pada 2026, namun kini berpotensi berubah apabila inflasi tidak stabil.
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB (investment grade) dengan outlook stabil, yang mencerminkan risiko gagal bayar relatif rendah.
Nico menilai keputusan S&P tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia karena menjaga kepercayaan investor global, terutama investor institusi yang mensyaratkan peringkat investment grade. Menurutnya, stabilnya peringkat juga berpotensi menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah (SBN) sehingga biaya pendanaan negara tetap terjaga di tengah tekanan global.
Ia menambahkan, dari sisi pasar modal, kondisi tersebut dapat mendukung arus masuk modal ke saham dan obligasi, terutama bila disertai tren fiskal yang disiplin dan pertumbuhan ekonomi yang membaik. Nico juga menyebut sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan dan properti berpeluang mendapat sentimen positif karena ekspektasi stabilitas biaya dana.
Namun, Nico mengingatkan catatan S&P terkait rasio pembayaran bunga utang yang masih di atas 15 persen dapat menjadi risiko jangka menengah. Menurutnya, apabila tidak diimbangi peningkatan penerimaan negara yang berkelanjungan, hal itu dapat membatasi ruang fiskal pemerintah ke depan.
Pada perdagangan Kamis (16/4/2026), bursa saham Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 melemah 0,04 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,29 persen, DAX Jerman naik 0,36 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,14 persen.
Sementara itu, Wall Street kompak menguat pada Kamis (16/4). Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,24 persen ke 48.578,72, S&P 500 menguat 0,26 persen ke 7.041,28, dan Nasdaq Composite bertambah 0,36 persen ke 24.102,70.
Di kawasan Asia pada Jumat pagi, sejumlah indeks bergerak melemah. Indeks Nikkei turun 576,34 poin atau 0,97 persen ke 58.942,00, Shanghai melemah 15,04 poin atau 0,37 persen ke 4.040,50, Hang Seng turun 254,76 poin atau 0,97 persen ke 26.139,50, dan indeks Kuala Lumpur melemah 1,26 poin atau 0,07 persen ke 1.688,45.