Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan 14 April 2026. IHSG naik 175 poin atau 2,34% ke level 7.675, ditopang nilai transaksi Rp24,36 triliun dengan volume 518,4 juta lot.
Penguatan indeks turut didorong saham-saham berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45, di antaranya BRPT, BUMI, BREN, AMMN, BBTN, INCO, dan DSSA. Sementara itu, tekanan datang dari ISAT, HEAL, AADI, SCMA, ADRO, EMTK, dan ASII.
Dari sisi sektoral, kenaikan IHSG tidak merata dan terkonsentrasi pada sektor tertentu. Sektor infrastruktur mencatat penguatan tertinggi sebesar 5,62% dengan kenaikan pada saham-saham seperti SMDR, EXCL, TBIG, MTEL, dan PGAS. Adapun sektor konsumer primer menjadi satu-satunya sektor di zona merah setelah turun 0,95%, mencerminkan adanya rotasi dana di tengah penguatan indeks.
Pergerakan IHSG sejalan dengan sentimen positif di pasar Asia. Sejumlah indeks utama di kawasan ditutup menguat, dengan Kospi naik 2,74%, Nikkei 225 menguat 2,43%, dan Taiex naik 2,37%. Indeks Shanghai, Shenzhen, CSI 300, Hang Seng, dan ASX 200 juga berada di zona hijau.
Penguatan bursa Asia terjadi di tengah dinamika geopolitik, termasuk langkah Amerika Serikat memulai blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, pasar juga merespons indikasi bahwa jalur dialog antara kedua negara masih terbuka, yang mendorong sentimen terhadap aset berisiko.
Di sisi lain, data ekonomi China menunjukkan ekspor pada Maret tumbuh 2,5% secara tahunan dalam dolar AS, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Pada saat yang sama, impor mencatat lonjakan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menggambarkan dinamika yang berbeda pada sisi eksternal.
Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang kawasan bervariasi. Yen, yuan, ringgit, baht, dolar Singapura, dan dolar Australia menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, rupiah melemah ke level 17.127 per dolar AS, bersama dengan rupee India yang juga terdepresiasi.
Sentimen positif juga terlihat di Eropa pada awal perdagangan. Indeks Stoxx 600, DAX, CAC 40, dan FTSE 100 bergerak di zona hijau mengikuti penguatan yang lebih dulu terjadi di Asia.
Di tengah penguatan pasar saham, harga minyak terkoreksi setelah sebelumnya sempat berada di level tinggi. Minyak Brent turun ke kisaran USD98 per barel, sementara WTI berada di sekitar USD97 per barel. Koreksi harga minyak ini terjadi seiring berkurangnya kekhawatiran gangguan pasokan, setelah muncul sinyal peluang dialog Amerika Serikat dan Iran masih terbuka.
Secara keseluruhan, pergerakan pasar pada hari itu berlangsung dalam konteks penguatan global yang dipengaruhi sentimen geopolitik. Kenaikan IHSG, penguatan bursa Asia dan Eropa, serta pergerakan mata uang dan komoditas menunjukkan keterkaitan dinamika pasar lintas kawasan.