BERITA TERKINI
IHSG Pulih Lebih Cepat dari Sejumlah Bursa Asia di Tengah Ketegangan AS-Iran-Israel

IHSG Pulih Lebih Cepat dari Sejumlah Bursa Asia di Tengah Ketegangan AS-Iran-Israel

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel masih membayangi pergerakan pasar modal global, terutama di kawasan Asia. Eskalasi yang meningkat sejak Februari hingga awal kuartal II 2026 memicu kekhawatiran terhadap stabilitas rute perdagangan maritim, khususnya di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi energi global. Potensi gangguan pada jalur ini dinilai dapat langsung memengaruhi fluktuasi harga minyak mentah. Bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, ketidakpastian tersebut turut mendorong sentimen risk-off di pasar saham.

Di tengah kondisi itu, beberapa negara di Asia mulai menyesuaikan strategi dengan mengamankan pasokan domestik melalui sumber energi alternatif seperti batu bara. Langkah ini disebut sebagai upaya mitigasi terhadap volatilitas harga minyak dan potensi disrupsi logistik.

Pemulihan indeks regional masih lambat

Tekanan eksternal tersebut tercermin pada kinerja bursa saham utama Asia yang dinilai masih kesulitan bangkit secara substansial dari titik terendahnya. Berdasarkan data perdagangan hingga penutupan 14 April 2026, mayoritas indeks regional menunjukkan laju pemulihan yang cenderung terbatas.

Di kawasan, bursa saham Malaysia melalui indeks KLSE tercatat menjadi yang paling tertinggal dalam pemulihan. Setelah mencapai level terendah pada 9 Maret 2026, KLSE hanya naik 0,83% dalam 36 hari kalender.

Sementara itu, indeks STI Singapura juga menunjukkan tren konsolidasi. Indeks tersebut memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk mencatat pemulihan di kisaran 5%.

Volatilitas berlanjut pada awal kuartal II

Memasuki April, tekanan jual di pasar reguler belum sepenuhnya mereda. IHSG dan CSI300 tercatat baru membentuk level terendah terbaru pada 7 April 2026, yang mengindikasikan investor masih sensitif terhadap perkembangan berita dari Timur Tengah.

Meski demikian, IHSG mampu mencatat pantulan teknikal relatif cepat, naik 10,11% dalam tujuh hari perdagangan terakhir. Namun, ruang gerak indeks secara keseluruhan disebut masih tertahan.

Pelaku pasar dinilai masih bersikap konservatif dan menahan diri untuk melakukan akumulasi besar-besaran hingga ada kejelasan mengenai resolusi konflik serta dampaknya terhadap kondisi makroekonomi regional.

Dalam perhitungan kecepatan pemulihan bursa utama Asia, indeks yang dicermati mencakup IHSG (Indonesia), KLSE (Malaysia), HIS (Hong Kong), STI (Singapura), CSI300 China (Shanghai & Shenzhen), SENSEX (India), NIKKEI 225 (Jepang), serta KOSPI (Korea Selatan).