BERITA TERKINI
IHSG Turun 0,68% ke 7.623 Saat Bursa Asia Menguat, Saham Bank Besar Tertekan

IHSG Turun 0,68% ke 7.623 Saat Bursa Asia Menguat, Saham Bank Besar Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 15 April 2026, di zona merah setelah turun 52 poin atau 0,68% ke level 7.623. Pelemahan terjadi di tengah aktivitas transaksi yang tetap tinggi, dengan volume perdagangan mencapai 504,8 juta lot dan nilai transaksi Rp21,91 triliun.

Tekanan terlihat dari komposisi saham unggulan yang lebih banyak melemah. Di kelompok LQ45, sejumlah saham berbasis komoditas dan siklikal masih mencatat penguatan, antara lain INCO, AADI, MDKA, dan ADRO. Sementara itu, pelemahan datang dari saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBNI, dan BBRI, bersama BRPT serta AMMN yang masuk dalam daftar penekan utama.

Secara sektoral, pergerakan pasar menunjukkan divergensi. Sektor industri menjadi penopang utama dengan kenaikan 1,54%, didorong lonjakan INDS yang naik 9,09% dan ACST yang menguat 8,60%. Penguatan juga terlihat pada ASII, SMSM, dan UNTR, yang mencerminkan perpindahan minat ke saham-saham berbasis manufaktur dan otomotif.

Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi penekan terdalam setelah turun 2,81%. Saham SILO melemah 4,89%, diikuti koreksi pada SIDO dan TSPC, menandakan tekanan yang relatif merata di sektor tersebut.

Berbanding terbalik dengan IHSG, pergerakan bursa Asia cenderung positif. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,5% dan mencapai level tertinggi dalam enam minggu, seiring meningkatnya selera risiko investor global. Sentimen ini didorong sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden Donald Trump menyampaikan peluang kelanjutan pembicaraan dalam waktu dekat, dengan Pakistan disebut sebagai lokasi perundingan berikutnya. Peluang dimulainya kembali negosiasi juga dikonfirmasi oleh pejabat Pakistan dan Iran.

Analis Pepperstone, Michael Brown, menilai dinamika terbaru mengindikasikan kedua pihak tidak mengarah pada eskalasi lebih lanjut. Ia juga menilai wacana blokade Selat Hormuz lebih mencerminkan strategi negosiasi ketimbang aksi militer terbuka.

Sentimen global turut tercermin di Wall Street. Indeks Nasdaq naik 2% dan memperpanjang reli menjadi 10 hari berturut-turut, sementara S&P 500 bergerak mendekati rekor penutupan tertinggi. Penguatan didukung data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi akibat konflik geopolitik.

Dari pasar obligasi, imbal hasil US Treasury turun terbatas. Yield tenor dua tahun melemah 1 basis poin ke 3,746%, sedangkan tenor 10 tahun turun 1 basis poin ke 4,2439%. Pergerakan ini mencerminkan adanya pergeseran terbatas ke aset aman di tengah perkembangan sentimen global.

Di Asia, mayoritas indeks utama menguat. Nikkei 225 naik 0,44% ke 58.134 dan Topix bertambah 0,40% ke 3.770. Hang Seng menguat 0,29% ke 25.947, sementara Kospi mencatat kenaikan terbesar 2,07% ke 6.091. Namun, tekanan masih terlihat di China, dengan indeks Shenzhen turun 0,97% dan CSI 300 melemah 0,34%. Shanghai Composite relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,01%.

Dari sisi mata uang, yen Jepang menguat tipis 0,01% ke 158,77 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,06% dan dolar Australia menguat 0,25% ke 0,7143 per dolar AS. Di kawasan regional, rupiah melemah 0,09% ke 17.143 per dolar AS. Yuan China turun 0,04%, sedangkan ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing menguat 0,04% dan 0,09%. Pergerakan ini menunjukkan arus modal yang masih selektif di tengah perubahan sentimen global.