BERITA TERKINI
IHSG Turun 0,68% ke 7.623,59, Asing Catat Jual Bersih Rp1,23 Triliun

IHSG Turun 0,68% ke 7.623,59, Asing Catat Jual Bersih Rp1,23 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,68% ke posisi 7.623,59 pada perdagangan Rabu (15/04). Pelemahan terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik.

Pergerakan indeks pada hari itu ditopang oleh penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar, di antaranya ASII yang naik 2,44%, DSSA menguat 1,52%, dan MDKA melonjak 4,36%. Namun, tekanan datang dari pelemahan BBCA yang turun 2,96%, SRAJ merosot 13,82%, serta BBRI terkoreksi 1,73%.

Dari sisi aliran dana, investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp1,23 triliun di pasar reguler. Sementara itu, nilai jual bersih asing di seluruh pasar tercatat Rp1,16 triliun.

Secara sektoral, enam dari sebelas sektor berakhir di zona merah. Sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 2,81%, sedangkan sektor transportasi menjadi yang paling menguat dengan kenaikan 3,45%.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones turun 0,15% ke level 48.463, sementara S&P 500 naik 0,80% ke 7.022 dan Nasdaq menguat 1,60% ke 24.016. Di sisi geopolitik, pejabat Gedung Putih mengindikasikan pembahasan putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tengah berlangsung.

Meski demikian, sentimen tersebut belum tercermin pada minat investor terhadap aset Indonesia. Hal ini terlihat dari pelemahan indeks ETF EIDO sebesar 0,97% serta MSCI Indonesia yang turun 1,27%.

Dari dalam negeri, pemerintah melalui Kepmen ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 menyesuaikan formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas nikel dan bauksit yang berlaku mulai 15 April. Kebijakan ini disebut bertujuan mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus menyesuaikan dengan dinamika harga global.

Dalam perubahan tersebut, penentuan harga nikel kini tidak hanya mempertimbangkan kadar nikel, tetapi juga memasukkan mineral ikutan seperti besi, kobalt, dan krom, serta penyesuaian faktor koreksi. Sementara formula harga bauksit kini memasukkan parameter reaktif silika, dan satuan harga diubah dari dry metric ton (DMT) menjadi wet metric ton (WMT). Kebijakan ini diperkirakan memberi dampak positif bagi pelaku usaha di sektor hulu, namun berpotensi menambah tekanan bagi industri pengolahan di sisi hilir.

Di ranah korporasi, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen final sebesar Rp335 per saham dalam RUPST. Dengan demikian, total dividen tahun buku 2025 menjadi Rp458 per saham atau setara Rp881,5 miliar, dengan rasio pembagian laba 60% dari laba bersih.

Sebelumnya, perseroan telah membagikan dividen interim sebesar Rp123 per saham senilai Rp236 miliar pada Oktober 2025. Sisa dividen sebesar Rp647 miliar dijadwalkan dibayarkan pada 13 Mei kepada pemegang saham. Adapun laba yang tidak dibagikan akan dicatat sebagai laba ditahan untuk mendukung program penanaman kembali (replanting).