Narasi ekonomi global berubah cepat dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada awal 2026 prospek pertumbuhan dunia sempat ditopang optimisme bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi mesin baru ekspansi ekonomi, kini perhatian bergeser ke risiko geopolitik yang dinilai lebih dominan dalam jangka pendek.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 dari sekitar 3,3% menjadi 3,1%. IMF juga menilai, dalam skenario terburuk pertumbuhan dapat melambat hingga 2,5% atau lebih rendah apabila konflik berlangsung berkepanjangan.
Perubahan proyeksi ini tidak hanya mencerminkan penyesuaian angka, tetapi juga sinyal bahwa arah risiko ekonomi dunia tengah bergeser dari sentimen teknologi menuju ketidakpastian geopolitik.
Pada awal tahun, IMF sempat melihat ruang pertumbuhan yang lebih cerah seiring lonjakan investasi di sektor AI. Teknologi ini diperkirakan dapat menambah hingga 0,8% terhadap pertumbuhan global. Di Amerika Serikat, hampir sepertiga ekspansi ekonomi disebut terkait dengan investasi di bidang tersebut.
Namun, sejak awal IMF juga menekankan bahwa AI membawa konsekuensi ganda: berpotensi mendorong produktivitas, tetapi sekaligus menyimpan risiko koreksi valuasi dan memperlebar ketimpangan.
Memasuki kuartal II-2026, dinamika berubah. Konflik geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global. Dalam pembaruan proyeksinya, IMF menurunkan sejumlah perkiraan utama, termasuk memangkas pertumbuhan negara berkembang menjadi 3,9% dari sebelumnya 4,2%.
Sejumlah kawasan terdampak lebih dalam. Untuk Timur Tengah, IMF memangkas proyeksi hingga 2 poin persentase, seiring eskalasi konflik dan volatilitas harga minyak.
Dampak konflik juga dinilai menjalar ke indikator lain. IMF memproyeksikan inflasi global naik dari 4,1% menjadi 4,4%, dengan potensi menembus di atas 6% jika ketegangan berkepanjangan.
Di sisi fiskal, tekanan meningkat. Utang global diperkirakan mencapai 100% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2029. Kondisi ini menempatkan banyak negara pada dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi atau memperkuat stabilitas anggaran.
IMF menilai kombinasi suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik membuat sistem keuangan global lebih sensitif terhadap guncangan, termasuk meningkatnya risiko gejolak di pasar obligasi dan aset keuangan.
Situasi ini mencerminkan tarik-menarik dua kekuatan besar. AI dipandang sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Namun, geopolitik menghadirkan guncangan jangka pendek yang cepat terasa pada inflasi, energi, dan perdagangan. IMF menggambarkan kondisi tersebut sebagai ekonomi yang “tangguh namun rapuh”—tetap tumbuh, tetapi berdiri di atas fondasi yang rentan.
Pergeseran narasi ini juga tercermin pada strategi investor. Terjadi rotasi dari aset berbasis pertumbuhan, seperti saham teknologi, menuju sektor defensif seperti energi, utilitas, dan kebutuhan pokok. Instrumen lindung nilai kembali diminati, termasuk emas sebagai pelindung terhadap inflasi dan ketidakpastian, dolar AS sebagai aset safe haven, serta komoditas energi yang diuntungkan oleh gangguan pasokan.
Di saat yang sama, valuasi sektor AI kembali menjadi sorotan. Jika ekspektasi pertumbuhan tidak terpenuhi, potensi koreksi pasar dinilai tetap terbuka.
IMF juga menyoroti paradoks yang mengemuka. Di satu sisi, AI diperkirakan dapat memengaruhi hingga 60% pekerjaan di negara maju dan membuka peluang produktivitas besar. Namun di sisi lain, konflik geopolitik dapat dengan cepat mengikis dampak positif tersebut melalui tekanan inflasi dan gangguan pasokan.
Dengan pemangkasan outlook ini, IMF menandai pergeseran besar dalam cerita ekonomi global: dari keyakinan bahwa teknologi dapat menjadi penopang utama, menuju penekanan bahwa stabilitas geopolitik kini menjadi faktor yang lebih menentukan. Pertumbuhan masih bertahan, tetapi dinilai lebih rapuh, sementara volatilitas pasar berpotensi menjadi bagian dari keseharian baru.