BERITA TERKINI
IMF Peringatkan Asia soal Risiko Inflasi dan Gangguan Rantai Pasok di Tengah Guncangan Energi

IMF Peringatkan Asia soal Risiko Inflasi dan Gangguan Rantai Pasok di Tengah Guncangan Energi

Washington — Dana Moneter Internasional (IMF) menilai kondisi makroekonomi di kawasan Asia masih menunjukkan daya tahan yang stabil di tengah dinamika ekonomi global. Namun, IMF mengingatkan adanya ancaman dari siklus baru guncangan harga energi yang diperkirakan dapat memicu efek berantai terhadap stabilitas perekonomian kawasan.

Dalam keterangan pada Pertemuan Musim Semi IMF dan Grup Bank Dunia 2026, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan menyoroti kerentanan struktural Asia di tengah meningkatnya eskalasi global. Ia menilai tingginya intensitas penggunaan bahan bakar fosil di Asia, serta ketergantungan pada komoditas energi dari wilayah konflik, berpotensi menekan perekonomian negara-negara di kawasan.

Meski dibayangi risiko geopolitik, Srinivasan mencatat pertumbuhan di mayoritas negara Asia pada akhir 2025 melampaui ekspektasi awal pasar. Ia juga menyebut lonjakan kinerja ekspor belakangan ini ditopang oleh kuatnya permintaan global terhadap produk teknologi.

Menurut Srinivasan, situasi tersebut menguntungkan banyak negara Asia yang terintegrasi erat dengan rantai pasok teknologi global. Selain itu, diversifikasi perdagangan ke berbagai kawasan dunia dinilai membantu meredam dampak pelemahan permintaan impor dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, IMF menekankan ancaman inflasi dan disrupsi rantai pasok yang dapat muncul seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Srinivasan menggarisbawahi dampak perang terhadap kenaikan harga minyak dan gas dunia, yang mempertegas tingginya eksposur Asia terhadap guncangan energi, mengingat sektor manufaktur di kawasan cenderung padat energi dan bergantung pada bahan bakar impor.

Ia juga memperingatkan Asia rentan terhadap gangguan pasokan input penting bagi manufaktur dan pertanian, seperti produk petrokimia dan pupuk. Jika konflik berlarut-larut, dampaknya dinilai berpotensi merusak tatanan rantai pasok global secara lebih luas.

Dalam proyeksinya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan melandai dari 5,0% pada 2025 menjadi 4,4% pada 2026, lalu kembali turun ke 4,2% pada 2027. Tiongkok dan India diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi sekitar 70% dari total ekspansi ekonomi kawasan.

Untuk mitigasi jangka pendek, Srinivasan mendorong pembuat kebijakan di Asia meredam guncangan tanpa mengorbankan mekanisme sinyal harga pasar maupun kredibilitas kebijakan. Sementara pada jangka menengah, ia meminta pemerintah memprioritaskan reformasi struktural guna membangun pertumbuhan yang lebih tangguh, seimbang, dan inklusif di tengah ketidakpastian global.