BERITA TERKINI
Indonesia Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

Indonesia Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia dinilai mampu mempertahankan ketahanan ekonomi. Tekanan eksternal seperti konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar disebut belum menggoyahkan fondasi ekonomi nasional.

Salah satu indikator yang disorot adalah inflasi yang relatif terkendali. Pemerintah disebut menjalankan kebijakan pengendalian harga kebutuhan pokok serta menjaga pasokan barang di pasar. Stabilitas harga dipandang penting karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global dan berbeda dibanding krisis 1998. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, menjadi yang tertinggi kedua di antara negara G20 setelah India. Airlangga juga menyampaikan defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibanding beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, dan India.

Dari sisi sektor keuangan, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan seiring penguatan dolar AS, namun secara umum dinilai masih stabil dibanding sejumlah negara berkembang lain. Bank Indonesia bersama pemerintah disebut terus menempuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar. Kepercayaan investor juga dinilai tetap terjaga, tercermin dari aliran investasi yang masih masuk.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan bahwa sebagian investor mulai melirik Indonesia sebagai tujuan investasi seiring meningkatnya eskalasi geopolitik global. Menurutnya, investor menilai Indonesia memiliki daya tarik berupa stabilitas politik dan keamanan, yang dipandang penting karena investasi merupakan komitmen jangka panjang.

Dari sisi pertumbuhan, konsumsi rumah tangga disebut tetap kuat sebagai motor utama ekonomi, ditopang aktivitas masyarakat yang terus berjalan. Sejumlah sektor seperti industri, perdagangan, dan jasa juga dinilai melanjutkan pemulihan pascapandemi. Selain itu, ekonomi digital dan hilirisasi sumber daya alam disebut menjadi pendorong baru yang memperkuat struktur ekonomi.

Pemerintah disebut berperan melalui kebijakan yang responsif dan terukur. Program perlindungan sosial dilanjutkan untuk menjaga daya beli masyarakat, sementara insentif bagi dunia usaha diberikan untuk mendorong produktivitas. Pembangunan infrastruktur juga disebut terus berjalan untuk memperkuat konektivitas dan efisiensi ekonomi, dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi salah satu kunci menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

Ketahanan ekonomi Indonesia juga dikaitkan dengan kekuatan domestik, termasuk jumlah penduduk besar dan pasar yang luas. Kondisi ini dinilai memberi keunggulan dibanding negara yang sangat bergantung pada ekspor, karena permintaan dalam negeri dapat menjadi penopang ketika terjadi perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, transformasi ekonomi disebut terus didorong agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat. Fokus diarahkan pada hilirisasi industri, penguatan UMKM, dan pengembangan ekonomi berbasis teknologi untuk meningkatkan nilai tambah serta daya saing produk Indonesia di pasar global.

Kepala Ekonomi Asian Development Bank (ADB) Albert Park menyampaikan kawasan Asia Pasifik menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah. Meski demikian, ia menilai Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih kuat dibanding negara lain di kawasan. ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, meningkat dari 5,1 persen pada 2025, dengan ketahanan tersebut ditopang faktor domestik yang solid.

Ke depan, tantangan global dinilai masih berpotensi berlanjut dan semakin kompleks. Namun, dengan fondasi ekonomi yang disebut kuat, kebijakan adaptif, serta dukungan masyarakat, Indonesia dinilai memiliki modal untuk tetap tangguh menghadapi gejolak global.