BERITA TERKINI
Kelas Menengah Dinilai Jadi Penopang Ekonomi Domestik di Tengah Tekanan Global

Kelas Menengah Dinilai Jadi Penopang Ekonomi Domestik di Tengah Tekanan Global

Masyarakat kelas menengah dinilai memegang peran strategis dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan global yang masih tinggi. Peran tersebut terutama terlihat melalui aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini berada di kisaran 54–55 persen. Menurutnya, porsi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat perekonomian Indonesia masih mampu bertahan di tengah dinamika global.

Ia juga menyinggung dampak konflik geopolitik yang memengaruhi sektor energi dan logistik serta berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, Susiwijono menilai struktur ekonomi Indonesia relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri.

Dalam paparannya, Susiwijono menyebut kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35 persen dari total 185,35 juta penduduk Indonesia. Kelompok tersebut disebut menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya pergeseran proporsi dari kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah. Kondisi ini, menurutnya, mengindikasikan tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi domisili mayoritas kelas menengah.

Selain pergeseran proporsi, karakteristik kelas menengah juga disebut mengalami perubahan. Di antaranya, lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa serta kecenderungan menurunnya proporsi pekerja formal.

Dari sisi konsumsi, Susiwijono menjelaskan pengeluaran kelompok ini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup. Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam perumusan kebijakan ke depan.

Susiwijono turut menyinggung fenomena Chilean Paradox, yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, hal itu menjadi pengingat agar kebijakan ekonomi yang disusun berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah, kata dia, menyiapkan berbagai program yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah. Untuk kelompok rentan, pemerintah menyalurkan bantuan sosial. Sementara bagi kelas menengah, stimulus diberikan melalui insentif perpajakan dan dukungan sektor perumahan melalui FLPP.

Selain itu, terdapat insentif otomotif serta subsidi energi yang ditujukan untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi kelompok menengah.