Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mendorong pelaku usaha nasional bersikap adaptif dalam menghadapi dinamika ekonomi dunia yang dinilai tidak menentu. Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama kebutuhan barang di pasar internasional pada situasi saat ini.
Puntodewi mengatakan peluang tersebut perlu dioptimalkan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Indonesia berpeluang besar untuk mengambil peran sebagai sumber pasokan global dan tampil sebagai kekuatan ekspor di tengah ketidakpastian dunia. Setiap krisis menghadirkan peluang, kita perlu mendorong bersama upaya untuk meraih serta memanfaatkannya secara optimal,” ujar Puntodewi di Jakarta, Jumat, 17 April 2026.
Senada dengan itu, Sekretaris Direktorat Jenderal PEN Arief Wibisono meminta pengusaha tidak terhambat oleh tantangan global. Menurutnya, kesiapan dan kemampuan menyiasati keadaan menjadi kunci untuk mendorong peningkatan kinerja perdagangan luar negeri.
Arief menekankan dinamika politik dunia saat ini semestinya dipandang sebagai kesempatan bagi industri. Ia juga meminta pelaku usaha meningkatkan daya saing produk unggulan agar mampu bersaing di pasar internasional. “Dinamika global jangan dilihat sebagai penghalang, melainkan sebuah kesempatan. Untuk meraih kesempatan tersebut, maka pelaku usaha perlu siap, adaptif, dan mampu memanfaatkan peluang ekspor, mendorong peningkatan kinerja ekspor,” kata Arief.
Pesan tersebut disampaikan dalam forum strategi pengembangan ekspor di Kota Surabaya yang diikuti 75 pelaku usaha lokal. Kegiatan itu menghadirkan perwakilan Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor (PPIE) Ricky Rinaldi, serta Iska Huberta dari Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur yang memberikan wawasan teknis kepada peserta. Tenaga teknis Export Center Surabaya (ECS) Aksamil Khair juga turut hadir.
Dalam forum tersebut, para peserta memperoleh pemahaman mengenai program penguatan kolaborasi untuk meningkatkan nilai jual produk daerah. Selain itu, sesi jejaring bisnis memfasilitasi interaksi langsung antara produsen lokal dan pemangku kepentingan terkait ekspor.
Aksamil Khair menyambut baik inisiatif pemerintah yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembuat kebijakan secara langsung. Menurutnya, forum ini dapat menjadi wadah untuk mencari solusi konkret atas hambatan ekspor yang dihadapi daerah. “Melalui sesi diskusi, pelaku usaha menyampaikan berbagai permasalahan. Mereka memperoleh klarifikasi dan solusi untuk menjalankan serta mengembangkan ekspor,” ujar Aksamil.
Salah satu peserta, pemilik CV Haza Food Muhammad Zainudin, mengapresiasi materi mengenai regulasi perdagangan luar negeri yang dinilainya komprehensif. Ia mengatakan strategi adaptif diperlukan untuk menyiasati pasar Timur Tengah yang terdampak konflik.
Zainudin menilai forum tersebut membantu perusahaannya menyusun langkah agar pengiriman barang ke luar negeri tetap berjalan. Ia juga menyebut pemahaman aturan yang jelas memberikan kepastian bagi perusahaan kecil dalam merancang target pemasaran. “Kami memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai regulasi ekspor yang harus dipenuhi, strategi dalam menyiasati pasar Timur Tengah yang terdampak konflik. Forum ini membantu kami mengatur langkah agar ekspor dapat terus berjalan di tengah situasi yang dinamis,” ujarnya.