BERITA TERKINI
Kepemilikan Saham BUMI Bergeser per 31 Maret 2026, Mach Energy Tetap Dominan

Kepemilikan Saham BUMI Bergeser per 31 Maret 2026, Mach Energy Tetap Dominan

Struktur kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami pergeseran per 31 Maret 2026, berdasarkan data terbaru yang dirilis pada akhir bulan tersebut. Perubahan terlihat pada berkurangnya porsi sejumlah investor institusi asing serta munculnya entitas baru dalam daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%.

Dinamika ini menjadi perhatian pelaku pasar mengingat BUMI merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dan saat ini berada di bawah kendali kolaborasi Grup Bakrie dan Grup Salim.

Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek per akhir Maret 2026, China Investment Corporation (CIC) melalui Chengdong Investment Corp-Self tercatat terus melakukan pelepasan saham secara bertahap. Kepemilikan CIC menyusut menjadi 2,81%, mengindikasikan divestasi yang berlanjut dari lembaga investasi tersebut pada portofolionya di BUMI.

Selain CIC, Treasure Global Investments Limited juga tercatat mengurangi kepemilikannya. Per 31 Maret 2026, porsi saham Treasure Global Investments Limited berada di sekitar 3,18%.

Di tengah pengurangan porsi oleh dua entitas tersebut, muncul nama baru yakni Cris Developments Limited. Entitas ini dilaporkan menguasai sekitar 18,06 miliar lembar saham atau setara 4,86% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan, sehingga menambah variasi pemegang saham non-pengendali BUMI.

Meski terjadi perubahan pada pemegang saham minoritas, pengendalian perusahaan dilaporkan tetap stabil. Mach Energy (Hong Kong) Limited masih menjadi pemegang saham pengendali terbesar dengan kepemilikan 45,78%. Entitas ini disebut sebagai kendaraan investasi yang merepresentasikan aliansi strategis antara Grup Bakrie dan Grup Salim.

Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengonfirmasi bahwa posisi Ultimate Beneficial Owners (UBO) tetap berada pada Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthoni Salim, yang menandakan tidak ada perubahan fundamental dalam kendali perusahaan.

Laporan per 31 Maret 2026 turut mencatat kenaikan jumlah investor ritel secara signifikan. Jumlah pemegang saham BUMI disebut telah menembus 550.000 pihak, menjadikannya salah satu saham dengan basis investor terbesar di pasar modal Indonesia.

Minat ritel tersebut tercermin dari porsi kepemilikan publik (masyarakat) yang berada di kisaran 19,22% hingga 25%, bergantung pada klasifikasi pencatatan warkat maupun non-warkat.

Peningkatan partisipasi investor ritel dinilai berdampak pada likuiditas perdagangan saham BUMI, dengan volume transaksi harian yang tetap termasuk tertinggi di sektor energi. Namun, tingginya porsi ritel juga disebut berkontribusi terhadap volatilitas harga di pasar reguler. Pada periode laporan ini, harga saham BUMI terpantau bergerak di rentang Rp220 hingga Rp240 per lembar.

Di sisi perusahaan, fokus yang disampaikan adalah penguatan neraca keuangan serta pengembangan proyek hilirisasi batu bara untuk memenuhi mandat pemerintah. Diversifikasi bisnis dan perbaikan struktur permodalan dipandang menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi daya tarik BUMI di mata investor institusi ke depan.

Secara keseluruhan, perubahan kepemilikan per 31 Maret 2026 dipandang sebagai bagian dari sirkulasi modal yang wajar pada perusahaan publik dengan aktivitas perdagangan tinggi, sekaligus mencerminkan beragamnya profil risiko dan tingkat kepercayaan investor terhadap BUMI di tengah upaya menjaga stabilitas operasional di bawah kendali bersama dua grup konglomerasi besar.