BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Pernyataan Trump soal Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Pernyataan Trump soal Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Trump menyampaikan ancaman akan “menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran” bila negara itu tidak menerima “kesepakatan” yang ia sebut telah ditawarkan. Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai stabilitas kawasan dan potensi dampaknya terhadap pasar keuangan global.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengklaim Iran telah menembakkan peluru di Selat Hormuz dan menyebutnya sebagai “pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata kita.” Ia juga menuduh Iran menargetkan kapal Prancis dan Inggris. Trump menyatakan Amerika Serikat menawarkan “kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal,” namun disertai ultimatum bahwa penolakan atas tawaran tersebut akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur penting Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah hubungan AS-Iran yang telah lama tegang, terutama sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, Selat Hormuz berulang kali menjadi lokasi insiden yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global, termasuk dugaan serangan terhadap kapal tanker.

Trump juga menyebut perwakilannya akan menuju Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi. Di saat yang sama, ia mengklaim blokade AS sudah menutup Selat Hormuz dan menyebabkan Iran kehilangan pendapatan signifikan. Meski Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden, pernyataan dan retorikanya masih dinilai berpengaruh dalam membentuk persepsi risiko, terutama terkait kebijakan luar negeri dan keamanan.

Pelaku pasar umumnya merespons eskalasi geopolitik dengan peningkatan kehati-hatian. Ketegangan yang melibatkan kawasan penghasil energi dan jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz kerap memicu perubahan sentimen risiko, yang kemudian tercermin pada pergerakan mata uang dan komoditas.

Pada pasar valuta asing, pasangan EUR/USD dan GBP/USD cenderung sensitif terhadap perubahan sentimen global. Dalam situasi ketidakpastian yang meningkat, dolar AS kerap dipandang sebagai aset yang lebih aman, sehingga berpotensi menguat terhadap euro maupun poundsterling. Khusus untuk GBP, klaim mengenai penargetan kapal Inggris dapat menambah sentimen negatif, meski besarnya dampak bergantung pada perkembangan lanjutan.

Untuk USD/JPY, yen Jepang juga kerap diperlakukan sebagai aset safe haven. Jika kekhawatiran meningkat dan investor menghindari risiko, yen berpotensi menguat yang dapat menekan USD/JPY. Namun arah pergerakan tetap bergantung pada penilaian pasar apakah ketegangan berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas atau tetap terbatas.

Di pasar komoditas, emas sering menjadi tujuan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Jika situasi memburuk, permintaan terhadap emas berpotensi naik. Sementara itu, minyak mentah menjadi sorotan utama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital ekspor minyak dari Timur Tengah. Ancaman terhadap keamanan pelayaran di wilayah tersebut dapat memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak.

Kenaikan harga energi juga berpotensi memperkuat tekanan inflasi di berbagai negara. Dalam konteks inflasi yang masih menjadi perhatian banyak bank sentral, lonjakan harga minyak dapat mempersulit upaya stabilisasi harga dan berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter, termasuk lamanya periode suku bunga tinggi.

Secara keseluruhan, pernyataan Trump mengenai Iran dan Selat Hormuz menambah lapisan ketidakpastian pada situasi geopolitik yang sudah rentan. Perkembangan lanjutan, termasuk respons Iran serta dinamika negosiasi yang disebut akan melibatkan pertemuan di Pakistan, akan menjadi faktor penting yang dipantau pasar dalam menentukan arah pergerakan aset-aset utama seperti dolar AS, emas, dan minyak mentah.