BERITA TERKINI
Ketidakpastian Global Naik, Inflasi Terasa di Dalam Negeri dan Dorong Warga Perkuat Tabungan

Ketidakpastian Global Naik, Inflasi Terasa di Dalam Negeri dan Dorong Warga Perkuat Tabungan

Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi sepanjang 2026. Kondisi ini tercermin dari lonjakan Indeks Ketidakpastian Dunia (World Uncertainty Index/WUI) yang mencapai 106.862 pada Februari 2026, disebut sebagai level tertinggi sepanjang sejarah.

Indeks tersebut disusun berdasarkan analisis laporan Economist Intelligence Unit (EIU) dari berbagai negara. Dengan demikian, WUI menggambarkan persepsi risiko ekonomi global secara luas dan tidak semata-mata mencerminkan dinamika pasar keuangan.

Dampak ketidakpastian global turut dirasakan di Indonesia, salah satunya melalui tekanan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sekitar 3,48 persen per Maret 2026. Tekanan terutama datang dari komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) yang tumbuh sekitar 6,08 persen secara tahunan (YoY), serta harga bergejolak (volatile food) sebesar 4,24 persen YoY.

Meski inflasi tersebut masih berada dalam target pemerintah, situasi ini mulai menekan daya beli, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Di tengah kondisi yang tidak menentu, masyarakat cenderung mengambil langkah lebih hati-hati dengan meningkatkan tabungan. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 menunjukkan porsi pendapatan yang disimpan naik menjadi 17,7 persen, dari 16,5 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini mengindikasikan kecenderungan precautionary saving, yakni rumah tangga menahan konsumsi dan memperkuat cadangan keuangan sebagai langkah antisipasi.

Namun, menyimpan aset dalam bentuk kas dalam jangka panjang juga memiliki risiko. Head of Investment and Insurance DANA Ivan Kusuma menilai, menumpuk dana tunai berpotensi membuat nilai riil aset tergerus inflasi. Karena itu, ia menyarankan kas dipegang secukupnya untuk kebutuhan likuiditas dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dapat dialokasikan ke aset atau instrumen yang berpotensi menjaga nilai terhadap inflasi.

Ivan menyebut emas sebagai salah satu aset yang relatif tahan terhadap inflasi. Selain itu, ia menilai Surat Berharga Negara (SBN) termasuk instrumen yang cenderung lebih stabil karena umumnya menawarkan imbal hasil lebih terprediksi melalui pembayaran kupon, meski nilainya tetap dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar, terutama perubahan suku bunga. Ia juga menekankan bahwa SBN dijamin pemerintah sehingga dinilai memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

Menurut Ivan, bagi investor pemula, membangun portofolio secara bertahap dengan instrumen yang relatif stabil lebih penting dibanding mengejar imbal hasil tinggi. Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi aset serta penyesuaian dengan profil risiko masing-masing.

Ia menambahkan, investasi obligasi seperti SBN kerap dianggap membutuhkan modal besar. Padahal, saat ini terdapat produk yang dapat dimulai dari Rp1 juta, sehingga membuka peluang bagi lebih banyak orang, termasuk anak muda, untuk mulai membangun portofolio sejak dini.