Kota Surakarta tercatat memiliki lebih dari 13 ribu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi penopang utama ekonomi daerah. Di tengah meningkatnya transaksi digital, kemampuan mengelola keuangan secara profesional dinilai semakin menentukan keberlanjutan usaha.
Hal itu disampaikan Astrid Widayani saat menjadi pembicara utama dalam acara Women Art & Society 2026 di Pendhapi Gedhe Balaikota Surakarta, Jumat, 17 April 2026. Dalam forum bertajuk “Peran Wanita Mandiri bagi Perekonomian Negeri”, ia menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi bagi perempuan pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.
Astrid mengingatkan, tanpa pemahaman yang kuat mengenai arus kas, pelaku usaha berisiko terjebak dalam kondisi stagnan. Karena itu, disiplin finansial perlu diterapkan sejak dini oleh pengusaha perempuan di Solo Raya.
Menurutnya, fondasi bisnis yang sehat dapat dimulai dari langkah praktis, seperti memisahkan rekening pribadi dan rekening usaha. Selain itu, pencatatan arus kas harian serta penyusunan anggaran yang realistis disebut penting agar keberlanjutan usaha tetap terjaga. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat membantu pelaku usaha mendeteksi potensi kerugian sejak awal.
“Perempuan hari ini bukan hanya penggerak keluarga, tetapi juga penggerak ekonomi. Kuncinya ada pada kemampuan mengelola keuangan secara disiplin, bijak, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” ujar Astrid.
Seiring tren digitalisasi, nilai transaksi QRIS di wilayah Solo Raya tercatat telah menembus lebih dari Rp5,4 triliun pada 2025. Kondisi ini, kata Astrid, menuntut pelaku UMKM untuk beralih dari pencatatan manual ke aplikasi digital yang lebih transparan.
Ia menilai penggunaan platform digital, pembayaran non-tunai, hingga aplikasi pencatatan keuangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing. “Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. UMKM harus mulai memanfaatkan platform digital, pembayaran non-tunai, hingga aplikasi pencatatan keuangan agar lebih transparan dan terukur,” katanya.
Di sisi lain, Astrid mengingatkan pelaku usaha agar mewaspadai layanan keuangan ilegal yang dinilai kian marak dan berisiko tinggi. Ia menyarankan masyarakat memanfaatkan akses pembiayaan resmi, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan literasi keuangan yang baik dan ekosistem yang kuat, Astrid berharap perempuan pelaku UMKM di Solo dapat tumbuh menjadi motor penggerak kesejahteraan keluarga dan kota.