BERITA TERKINI
Menkeu Purbaya: S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB dengan Outlook Stabil

Menkeu Purbaya: S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB dengan Outlook Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hasil pertemuannya dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC. Dalam pertemuan tersebut, S&P menegaskan peringkat kredit Indonesia tetap berada di level BBB dengan outlook stabil.

Purbaya mengatakan, penegasan tersebut menjadi sinyal bahwa ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global, termasuk perlambatan pertumbuhan, tingginya suku bunga dunia, dan ketidakpastian geopolitik.

Peringkat BBB masuk kategori investment grade, yang mencerminkan penilaian risiko gagal bayar Indonesia relatif rendah dan tetap layak menjadi tujuan investasi. Status ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor, menekan biaya pinjaman, serta memperkuat arus modal ke dalam negeri.

Sebelumnya, S&P Global Ratings sempat menyampaikan kekhawatiran terkait rasio pembayaran utang Indonesia. S&P juga menegaskan peringkat utang Indonesia berada di level BBB/Stable/A-2, namun menilai Indonesia termasuk yang rentan tertekan apabila konflik berkepanjangan dan gangguan pasar energi berlanjut.

Dalam pertemuan tersebut, Purbaya menjelaskan S&P menyoroti konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, terutama defisit anggaran yang dipertahankan di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu. Utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB,” ujar Purbaya, dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan.

Ia juga menyampaikan Presiden Prabowo memberikan arahan agar defisit APBN tetap dijaga secara prudent. Menurut Purbaya, komitmen tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain aspek fiskal, Purbaya menyebut ketahanan ekonomi juga tercermin dari membaiknya penerimaan negara. Ia menyampaikan pertumbuhan pajak pada dua bulan pertama tahun ini mencapai 30 persen, sementara periode Januari–Maret tumbuh sekitar 20 persen dibanding tahun lalu. Pemerintah juga melakukan restrukturisasi organisasi Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai untuk meningkatkan efektivitas pengumpulan penerimaan.

“Ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen, mereka sepertinya cukup puas,” kata Purbaya.

Menurut dia, S&P turut mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV tahun lalu. Berbagai indikator makro dan mikro juga dinilai menunjukkan tren positif pada awal pemerintahan Presiden Prabowo.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara. Purbaya mengatakan kondisi tersebut akan terus dimonitor agar tidak mengganggu ruang fiskal ke depan. “Saya bilang itu akan kita monitoring terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan tetap kita jaga,” ujarnya.

Dengan tetap terjaganya peringkat Indonesia di level BBB dan outlook stabil, pemerintah menilai hal itu menjadi pesan bagi pasar global bahwa fundamental ekonomi nasional masih solid di tengah tekanan eksternal.