PT Metro Timur Indonusa menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi keuangan global, Slickorps Ventures, untuk mempercepat penerapan kecerdasan buatan (AI) di sektor keuangan Asia Tenggara. Kolaborasi ini disebut sebagai langkah untuk mendorong transformasi teknologi di industri keuangan yang tengah berkembang.
Dalam kerja sama tersebut, Slickorps Ventures akan membawa teknologi perdagangan kuantitatif berbasis AI serta sistem manajemen risiko cerdas yang disebut telah teruji di sejumlah pasar maju. Teknologi yang dimaksud mencakup pengembangan strategi kuantitatif, sistem manajemen risiko real-time, hingga arsitektur perdagangan berkinerja tinggi.
Marketing Manager PT Metro Timur Indonusa, Bagoes Wicaksono, menyatakan AI kini menjadi elemen penting dalam industri keuangan. “AI tidak lagi sekadar alat, tetapi mulai menjadi inti sektor keuangan,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (14/4/2026). Menurut dia, kemitraan ini dirancang untuk mempercepat penguatan kapabilitas AI sekaligus membangun ekosistem yang stabil dan berkelanjutan di pasar lokal.
Sementara itu, Chief Operating Officer Slickorps Ventures, Miller Acosta, menilai Asia Tenggara memiliki potensi besar dengan karakter pasar yang unik dan pertumbuhan tinggi. Ia menyebut pihaknya ingin memastikan teknologi AI yang telah terbukti secara global dapat diadaptasi secara efektif di tingkat lokal.
Secara konkret, kolaborasi ini akan difokuskan pada dua hal utama, yakni adaptasi teknologi sesuai kebutuhan lokal dan pengembangan ekosistem talenta. Kedua perusahaan berencana menggandeng perguruan tinggi serta lembaga profesional untuk mencetak tenaga ahli di bidang keuangan kuantitatif dan AI.
Selain itu, Metro Timur Indonusa dan Slickorps Ventures juga akan menyesuaikan solusi teknologi dengan kerangka regulasi di masing-masing negara, sekaligus mendukung perkembangan startup di sektor terkait.
Kedua pihak menilai industri fintech di Asia Tenggara memasuki fase baru, dari sekadar ekspansi pengguna menuju penguatan kemampuan teknologi. Akselerasi digitalisasi dan semakin jelasnya regulasi dinilai membuka peluang penerapan AI, meski tetap membutuhkan pengembangan yang seimbang antara teknologi, talenta, dan kepatuhan.
Ke depan, kedua perusahaan menyatakan akan terus mengeksplorasi implementasi AI di sektor keuangan serta menyempurnakan model kerja sama berdasarkan respons pasar. Mereka berharap langkah ini dapat mendorong ekosistem fintech Asia Tenggara menjadi lebih matang dan mampu bersaing di tingkat global.