Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat signifikan dan kembali berada di kisaran 7.600, setelah sebelumnya sempat bergerak di sekitar level 6.900. Namun, penguatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mengakhiri berbagai risiko yang masih membayangi pasar saham domestik.
Sejumlah sentimen eksternal dan domestik masih berpotensi menekan pergerakan IHSG. Di antaranya adalah risiko dampak penurunan bobot sejumlah saham konglomerasi menyusul rebalancing indeks MSCI, tekanan dari dinamika geopolitik, serta kekhawatiran terhadap potensi membesarnya defisit anggaran.
Analis Algo Research, Alvin Baramuli, mencatat bahwa IHSG telah pulih cukup tajam dalam sepekan terakhir. “IHSG telah bangkit secara signifikan selama sepekan terakhir, naik +9% dari level terendahnya di 7.000 ke kisaran 7.600 saat ini, walaupun masih turun 16% dari level tertinggi sepanjang masa (all-time high) di posisi 9.100,” tulis Alvin, dikutip Kamis (16/4/2026).
Perhatian pelaku pasar kini mengarah pada agenda pengocokan ulang (rebalancing) indeks MSCI pada Mei 2026. Rebalancing tersebut diyakini berpotensi memangkas bobot Indonesia dalam indeks.
Meski demikian, konsensus pasar menilai Indonesia masih akan bertahan dalam kategori Emerging Market (EM) dan terhindar dari penurunan status menjadi Frontier Market, seiring perbaikan transparansi. Namun, menurut Alvin, pengurangan bobot investasi secara agregat tetap sulit dihindari.