Di kawasan wisata Pantai Walakiri, Sumba, Nusa Tenggara Timur, Katredha Lodo (32) atau yang akrab disapa Mama Redha menjalani keseharian sebagai nelayan perempuan. Sejak kecil ia sudah ikut melaut bersama ayahnya, mencari berbagai hasil laut untuk dijual ke rumah makan atau dikonsumsi masyarakat setempat.
Mama Redha menangkap ikan, gurita, siput gonggong, sayur laut, kerang, dan hasil laut lainnya. Ia menggunakan tombak besi untuk berburu saat air laut surut. Dalam sepekan, tangkapannya disebut bisa mencapai sekitar 9–10 kilogram, meski jadwal melaut tidak selalu tetap karena bergantung pada pengaruh bulan terhadap pasang surut air laut.
Saat laut pasang, ia memilih tidak melaut dan memusatkan perhatian pada penjualan hasil tangkapan yang sudah diperoleh. Dari kebiasaan memotret hasil tangkapan, Mama Redha kemudian mulai memanfaatkan media sosial untuk menawarkan dagangannya.
Menurut penuturannya, awalnya ia hanya mengunggah foto dengan keterangan “Berkat dari laut hari ini.” Respons warga yang ingin membeli membuatnya mulai menjadikan media sosial sebagai saluran penjualan. Seiring waktu, ia tidak hanya mengunggah foto, tetapi juga berjualan melalui TikTok Live dan aktif sebagai streamer.
Mama Redha mengaku pernah menerima ejekan saat berjualan di media sosial. Namun ia menilai tidak ada alasan untuk merasa malu selama produk yang dijual segar dan diminati. Ia menyebut setiap kali mengunggah atau melakukan siaran langsung, hasil tangkapannya selalu terjual.
Dengan pemasaran digital, jangkauan pembelinya meluas. Ia mengatakan restoran lokal juga menjadi pelanggan untuk memperoleh hasil laut segar. Meski demikian, ia kerap menghadapi kendala ketersediaan stok karena jumlah tangkapan sangat dipengaruhi pasang surut. Ia menyebut ada kalanya permintaan tinggi, tetapi ia tidak dapat memenuhinya karena stok cepat habis.
Di tengah usaha yang berjalan baik, Mama Redha menilai ia tidak bisa bergantung pada satu sumber penghasilan. Pada 2024, ia bergabung sebagai mitra Amartha dan memperoleh pinjaman modal sebesar Rp5 juta. Dana tersebut digunakan untuk membuka warung kelontong sebagai pendapatan tambahan.
Ia menjelaskan alasan membuka usaha sampingan karena hasil laut dinilai tidak stabil dan sangat bergantung pada pergerakan bulan. Mama Redha juga menceritakan bahwa sebelumnya ia sempat mencoba meminjam uang dari lembaga keuangan lain, tetapi menemui kesulitan karena persyaratan yang rumit dan bunga yang tinggi. Ia menilai akses permodalan melalui Amartha lebih mudah dan tanpa agunan.
Selain menjadi nelayan, Mama Redha pernah bekerja di pabrik cengkeh sebagai tim monitoring pertumbuhan cengkeh. Namun ia memutuskan berhenti setelah sering sakit dan mengalami batu ginjal. Ia mengatakan setelah kembali melaut, ia merasa tidak lagi mengalami sakit seperti sebelumnya.
Dari penghasilan melaut dan berjualan di warung kelontong, Mama Redha menyebut dirinya berhasil membeli sepeda motor dan membangun rumah berbahan beton. Ke depan, ia berencana tetap bergabung dan mengajukan pinjaman lebih besar untuk mewujudkan cita-citanya membuka warung makan seafood sendiri di Walakiri dengan olahan bumbu lokal.