BERITA TERKINI
OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan dalam Pendidikan Formal untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan dalam Pendidikan Formal untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penguatan literasi keuangan generasi muda melalui pendidikan keuangan dalam sistem pendidikan formal. Upaya ini ditujukan untuk membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran dan ketahanan finansial sejak dini.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam OJK International Webinar bertema “From Early Education to Financial Health: Integrating Financial Literacy into Formal Education Systems” yang digelar secara virtual pada Jumat. Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Global Money Week (GMW) 2026.

Menurut Dicky, literasi keuangan perlu diwujudkan menjadi kesehatan keuangan. Ia menekankan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga ketahanan, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, serta kesejahteraan keuangan jangka panjang, khususnya bagi generasi muda.

Dicky juga menyampaikan bahwa pendidikan memegang peran sentral dalam membangun kapasitas keuangan masyarakat sejak dini melalui penguatan pengetahuan, keterampilan praktis, dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Ia menilai integrasi literasi keuangan ke dalam sistem pendidikan formal dan kurikulum dapat menjadi fondasi agar individu mampu mengambil keputusan keuangan yang bijak sepanjang hidupnya.

Selain itu, Dicky mengatakan penguatan literasi keuangan memerlukan kolaborasi berkelanjutan antara regulator, pendidik, industri, dan komunitas. OJK juga memandang pendidikan keuangan perlu melampaui ruang kelas, termasuk melalui platform digital, kampanye nasional, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem literasi keuangan yang kuat dan inklusif.

Dalam kesempatan yang sama, Chair of the OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE) Magda Bianco menyampaikan bahwa edukasi dan literasi keuangan merupakan modal penting bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko dalam pengelolaan keuangan.

Magda menyoroti kemudahan akses informasi, hadirnya berbagai instrumen investasi baru, serta maraknya informasi investasi dari sumber yang tidak selalu kredibel sebagai peluang sekaligus risiko. Karena itu, ia menilai kompetensi keuangan perlu dibangun sejak dini.

Menurut Magda, terdapat dua alasan utama mengapa kompetensi keuangan perlu diajarkan sejak usia sekolah. Pertama, pengetahuan yang diperoleh sejak dini dinilai lebih mudah tertanam dan dikuasai hingga dewasa. Kedua, pembelajaran sejak dini dapat membantu mengurangi kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial ekonomi, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan yang lebih setara dalam menghadapi masa depan.

Magda juga menyampaikan bahwa berbagai bukti empiris menunjukkan kompetensi keuangan dapat meningkatkan ketahanan individu dalam menghadapi guncangan, termasuk risiko penipuan. Selain itu, kompetensi keuangan disebut dapat membantu mengelola utang secara bijak, menghindari utang berlebih, serta mendorong keputusan investasi yang lebih rasional melalui pemahaman atas risiko dan imbal hasil.

Secara keseluruhan, peningkatan literasi keuangan dinilai tidak hanya mendukung kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan moneter, dan pengurangan kesenjangan sosial.

Webinar tersebut merupakan bagian dari peringatan Global Money Week 2026 yang mengangkat tema “Smart Money Talks”, sebuah inisiatif global yang digagas oleh OECD/INFE. GMW 2026 menekankan pentingnya percakapan terbuka, inklusif, dan bermakna mengenai keuangan di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas untuk meningkatkan cara berpikir kritis tentang keuangan, membentuk perilaku keuangan yang bertanggung jawab, serta menumbuhkan kepercayaan diri finansial peserta didik sejak dini.

Kegiatan ini diikuti sekitar 3.000 peserta yang berasal dari perwakilan kementerian/lembaga, lembaga jasa keuangan, guru dan tenaga pendidik, akademisi, ekonom, mahasiswa, Duta Literasi Keuangan OJK, serta pegawai OJK.