Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penguatan literasi keuangan generasi muda melalui jalur pendidikan formal. Langkah ini ditujukan untuk membentuk kesadaran masyarakat agar memiliki ketahanan finansial sejak dini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menekankan bahwa literasi keuangan perlu diwujudkan menjadi kesehatan keuangan. Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga ketahanan, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, serta kesejahteraan keuangan jangka panjang, khususnya bagi generasi muda.
Dicky menyampaikan bahwa pendidikan memegang peran sentral dalam membangun kapasitas keuangan masyarakat sejak dini melalui penguatan pengetahuan, keterampilan praktis, dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Ia menilai, integrasi literasi keuangan ke dalam sistem pendidikan formal dan kurikulum menjadi fondasi agar setiap individu mampu mengambil keputusan keuangan yang bijak sepanjang hidupnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara regulator, pendidik, industri, dan komunitas untuk mendukung upaya tersebut. Selain itu, OJK memandang pendidikan keuangan perlu melampaui ruang kelas, antara lain melalui platform digital, kampanye nasional, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan guna membangun ekosistem literasi keuangan yang kuat dan inklusif.
Sementara itu, Chair of the OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE) Magda Bianco menyatakan edukasi dan literasi keuangan merupakan modal penting bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko dalam pengelolaan keuangan. Ia menyoroti kemudahan akses informasi, hadirnya berbagai instrumen investasi baru, serta maraknya informasi investasi dari sumber yang tidak selalu kredibel sebagai peluang sekaligus risiko, sehingga kompetensi keuangan perlu dibangun sejak dini.
Magda menyebut ada dua alasan utama mengapa kompetensi keuangan perlu diajarkan sejak usia sekolah. Pertama, pengetahuan yang diperoleh sejak dini dinilai lebih mudah tertanam dan dikuasai hingga dewasa. Kedua, pembelajaran sejak dini dapat membantu mengurangi kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial ekonomi, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan yang lebih setara dalam menghadapi masa depan.
Menurut Magda, berbagai bukti empiris juga menunjukkan kompetensi keuangan dapat meningkatkan ketahanan individu dalam menghadapi guncangan, termasuk risiko penipuan. Kompetensi tersebut dinilai membantu pengelolaan utang secara bijak, menghindari utang berlebih, serta mendorong keputusan investasi yang lebih rasional melalui pemahaman atas risiko dan imbal hasil.
Secara keseluruhan, peningkatan literasi keuangan dinilai tidak hanya mendukung kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan moneter, dan pengurangan kesenjangan sosial.