BERITA TERKINI
OJK Kediri Perkuat Literasi Keuangan Syariah Santri Lewat Program SAKINAH

OJK Kediri Perkuat Literasi Keuangan Syariah Santri Lewat Program SAKINAH

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri mengintensifkan peningkatan literasi keuangan syariah di kalangan generasi muda melalui program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH). Program ini dirancang untuk membekali santri dengan pemahaman mengenai produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan yang sehat, serta kewaspadaan terhadap kejahatan dan aktivitas keuangan ilegal.

Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyatakan penguatan literasi keuangan syariah menjadi salah satu prioritas dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya di wilayah Jawa Timur. Melalui kegiatan SAKINAH yang digelar pada Selasa (14/4/2026), OJK berharap santri tidak hanya memahami konsep keuangan syariah, tetapi juga dapat menyebarkan edukasi tersebut di lingkungan sekitarnya.

Dalam pemaparannya, OJK menjelaskan perannya sebagai otoritas pengaturan, pengawasan, serta perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan. Fungsi tersebut mencakup sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

OJK juga menyampaikan gambaran terkini literasi dan inklusi keuangan syariah secara nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan syariah meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tingkat inklusi disebut masih relatif stagnan, sehingga menimbulkan kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan pemanfaatan layanan keuangan syariah.

Ismirani menilai tantangan yang dihadapi saat ini adalah menjadikan keuangan syariah sebagai pilihan utama masyarakat. Selain itu, akses yang belum merata serta inovasi produk yang dinilai belum sepenuhnya sesuai kebutuhan juga menjadi perhatian.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi perencanaan keuangan yang praktis, mulai dari mengenali kondisi keuangan pribadi, menyusun anggaran bulanan secara disiplin, hingga menjaga keseimbangan antara aset dan kewajiban. Santri juga diajak membedakan kebutuhan dan keinginan untuk menghindari perilaku konsumtif.

OJK turut memperkenalkan prinsip alokasi keuangan yang sehat, seperti menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan, investasi, serta kegiatan sosial dan keagamaan. Edukasi ini diarahkan untuk membentuk kebiasaan finansial yang bertanggung jawab sejak dini.

Selain itu, OJK menyoroti fenomena perilaku konsumtif di kalangan generasi muda, seperti YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear of Missing Out), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinion), yang dinilai kerap mendorong pengeluaran tidak rasional.

Aspek perlindungan konsumen juga menjadi bagian penting dalam program ini. OJK mengingatkan ciri-ciri investasi ilegal, antara lain janji keuntungan tinggi dalam waktu singkat tanpa risiko, tidak memiliki izin resmi, serta mencatut nama tokoh atau lembaga tertentu untuk menarik kepercayaan.

Maraknya pinjaman daring ilegal turut menjadi sorotan. OJK menyebut praktik tersebut umumnya ditandai dengan proses pencairan yang terlalu mudah, bunga tidak terbatas, dan metode penagihan yang melanggar hukum, termasuk intimidasi serta penyebaran data pribadi. Sebagai pembanding, OJK menjelaskan bahwa layanan pinjaman daring legal yang terdaftar dan diawasi memiliki transparansi informasi, batasan bunga dan denda, serta mekanisme pengaduan konsumen yang jelas.

Dalam era digital, OJK juga mengingatkan ancaman kejahatan siber seperti SMS hacking yang berpotensi memicu pencurian data pribadi dan pengambilalihan akun keuangan. Masyarakat diimbau menjaga kerahasiaan data, tidak membagikan kode OTP, serta meningkatkan keamanan perangkat digital.

Menutup kegiatan, OJK Kediri berharap program SAKINAH dapat menjadi katalis untuk mempercepat peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat. OJK juga menargetkan lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cakap mengelola keuangan sehingga mampu mengambil keputusan finansial yang bijak dan terhindar dari berbagai risiko.