Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menilai kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mereformasi pasar saham Indonesia berpotensi mendorong kualitas pasar ke tingkat yang lebih tinggi. Ia menyebut peningkatan transparansi dapat memberi dampak signifikan terhadap efisiensi pasar.
Menurut David, akses informasi yang lebih luas akan mengurangi kesenjangan informasi (information asymmetry) di antara pelaku pasar. Dengan transparansi yang lebih baik, investor dan analis dinilai akan lebih mudah memahami struktur kepemilikan, hubungan afiliasi, hingga tingkat likuiditas saham yang sebenarnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut dapat mendorong terbentuknya harga saham yang lebih mencerminkan fundamental perusahaan. Selain itu, peningkatan batas free float juga dinilai dapat memperbaiki kualitas likuiditas pasar.
David menilai saham dengan free float rendah selama ini cenderung rentan terhadap volatilitas yang tidak sehat dan lebih mudah dimanipulasi. Dengan porsi saham publik yang lebih besar, proses pembentukan harga (price discovery) disebut menjadi lebih optimal dan stabil.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi terkait Ultimate Beneficial Owner (UBO). Menurutnya, informasi mengenai pengendali riil perusahaan menjadi faktor krusial dalam menilai risiko tata kelola dan potensi konflik kepentingan.
David menyebut transparansi UBO telah menjadi standar yang diperhatikan investor institusional dalam konteks global dan dinilai penting untuk meningkatkan integritas pasar.
Lebih lanjut, pengenalan mekanisme High Shareholding Concentration juga disebut dapat memberi perlindungan tambahan bagi investor. Dengan informasi mengenai konsentrasi kepemilikan saham, investor dinilai dapat mengukur risiko secara lebih komprehensif, terutama terkait potensi volatilitas dan likuiditas.
Menurut David, rangkaian kebijakan tersebut juga merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan daya saing di mata investor global.