BERITA TERKINI
Pameran Pendidikan Vokasi Hanoi 2026 Perkuat Koneksi Sekolah, Dunia Usaha, dan Pasar Kerja

Pameran Pendidikan Vokasi Hanoi 2026 Perkuat Koneksi Sekolah, Dunia Usaha, dan Pasar Kerja

Pemerintah kota Hanoi kembali menggelar Hari Penghubung Pendidikan Kejuruan dan Pasar Kerja Hanoi 2026, sebuah agenda tahunan yang dirancang untuk mempertemukan lembaga pendidikan vokasi dengan dunia usaha serta memperluas akses siswa terhadap informasi belajar dan peluang kerja. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelajar untuk mencoba pengalaman praktis dan mengenali beragam pilihan profesi.

Dalam sambutan pembukaan, Direktur Departemen Pendidikan dan Pelatihan Nguyen Van Hien menekankan pentingnya pendidikan vokasi di tengah Revolusi Industri Keempat dan tren transformasi digital. Menurutnya, pendidikan vokasi berperan besar dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil untuk menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja yang terus berubah.

Nguyen Van Hien menilai, bagi Hanoi yang memiliki populasi besar dan ekonomi dinamis, penguatan keterhubungan antara pendidikan kejuruan dan pasar kerja bukan hanya kebutuhan mendesak, tetapi juga strategi jangka panjang. Ia menyebut langkah ini ditujukan untuk meningkatkan proporsi pekerja terlatih, mendorong produktivitas kerja, meningkatkan Indeks Daya Saing Provinsi (PCI), serta membangun pasar kerja yang fleksibel, modern, efisien, berkelanjutan, dan terintegrasi.

Sejumlah kegiatan digelar dalam acara tersebut, mulai dari konseling dan bimbingan karier bagi siswa SMA yang akan lulus, bursa kerja yang membuka ruang pertemuan langsung antara pencari kerja dan pemberi kerja, pameran produk pelatihan serta model peralatan, hingga demonstrasi keterampilan kejuruan dan pengalaman karier praktis. Rangkaian kegiatan itu disebut tidak hanya bersifat aplikatif, tetapi juga mendorong minat generasi muda untuk meniti karier melalui jalur vokasi.

Kepala Sekolah SMA Kejuruan Teknik Hanoi No. 1, Pham Quang Vinh, menilai tren pendidikan vokasi menunjukkan perkembangan positif dan sejalan dengan praktik internasional. Namun, ia mengingatkan perlunya penyelarasan yang kuat dengan kebutuhan pasar kerja agar tidak terjadi materi ajar yang berlebihan atau tidak relevan.

Karena itu, Pham Quang Vinh menekankan pentingnya hubungan erat antara sekolah dan dunia usaha dalam menentukan isi, tujuan, dan metode pelatihan, termasuk evaluasi hasil belajar yang sesuai dengan persyaratan perusahaan. Ia menyebut, keterhubungan tersebut menjadi kunci agar pelatihan vokasional benar-benar praktis dan efektif.

Dari sisi peserta, Phan Thùy Chi, siswi kelas 11D7 SMA Tran Hung Dao (Kelurahan Ha Dong, Hanoi), datang untuk mencari informasi mengenai berbagai profesi. Ia menyampaikan pandangannya bahwa universitas bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan masih banyak peluang lain yang bisa dipilih sesuai minat dan rencana masa depannya.

Hari Penghubung Pendidikan Kejuruan dan Pasar Kerja Ibu Kota telah diselenggarakan secara rutin sejak 2019. Skala penyelenggaraan disebut terus meningkat, tercermin dari jumlah peserta yang naik dari hampir 5.000 orang pada 2019 menjadi sekitar 15.000 orang pada penyelenggaraan tahun ini.

Perkembangan juga terlihat pada kemitraan antara lembaga pendidikan kejuruan dan dunia usaha. Jika pada 2019 dan 2020 kolaborasi tercatat sekitar 300–400 perusahaan per tahun, maka hingga akhir 2025 jumlah perusahaan yang terhubung meningkat menjadi lebih dari 1.000. Bentuk kerja sama meliputi perekrutan siswa, pesanan pelatihan, dukungan peralatan, bahan, dan pendanaan, serta keterlibatan dalam pengembangan dan revisi kurikulum serta buku teks di berbagai tingkat pelatihan, termasuk program pelatihan berkualitas tinggi.

Dengan penguatan kemitraan tersebut, tingkat penyerapan kerja rata-rata lulusan dan peserta pelatihan setelah lulus berada pada kisaran 70–80%. Disebutkan pula, sebagian lulusan telah memperoleh pekerjaan sebelum menyelesaikan studi, dan sejumlah bidang keahlian mencapai tingkat penyerapan kerja 100%.

Pada 2025, persentase pekerja terlatih di Hanoi tercatat mencapai 75,34%, dengan 55% di antaranya memiliki gelar atau sertifikat. Data ini turut memperlihatkan peran pendidikan vokasi dalam mendukung kebutuhan tenaga kerja terampil bagi pembangunan sosial ekonomi di ibu kota.