Pemerintah terus memperkuat agenda hilirisasi industri sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong daya saing industri dalam negeri di tengah dinamika perekonomian global yang menantang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi.
Meski demikian, Airlangga menyampaikan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11% pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3% pada 2026, dengan inflasi yang terkendali serta tingkat kepercayaan konsumen yang tetap berada pada level optimis. Surplus neraca perdagangan juga berlanjut, yang mencerminkan fundamental eksternal yang solid.
Ketahanan ekonomi tersebut didukung permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta struktur pembiayaan yang dinilai sehat dengan rasio utang luar negeri yang relatif rendah. Selain itu, sektor perbankan disebut tetap solid dengan likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat, sehingga mampu menopang stabilitas sistem keuangan nasional.
Pemerintah juga memperkuat bauran kebijakan untuk memitigasi berbagai risiko global. Dari sisi fiskal, penguatan APBN dilakukan melalui optimalisasi penerimaan, efisiensi belanja, serta refocusing anggaran ke sektor produktif.
Sementara dari sisi moneter dan sektor keuangan, pemerintah melakukan koordinasi erat dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi pasar dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal.