BERITA TERKINI
Pendapatan SICO Naik 38%, Margin Turun karena Porsi Bisnis SPBU Membesar

Pendapatan SICO Naik 38%, Margin Turun karena Porsi Bisnis SPBU Membesar

PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) mencatat pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 38% secara tahunan menjadi Rp154,18 miliar dari Rp111,07 miliar. Namun, kenaikan pendapatan tersebut diikuti penurunan margin, dengan gross profit margin turun dari 34,73% menjadi 29,81% dan net profit margin turun dari 10,969% menjadi 9,03%.

Manajemen menjelaskan, penurunan gross profit margin dan operating profit margin terutama dipengaruhi oleh besarnya beban pokok pendapatan (cost of goods sold/COGS) dari segmen SPBU, sehingga mengubah komposisi pendapatan secara konsolidasi. SICO tidak hanya menjalankan bisnis inti penyewaan kompresor GasJack, tetapi juga memiliki entitas anak PT Sigma Niaga Gas yang bergerak di bisnis SPBU melalui kerja sama dengan Shell dan BP.

Dalam paparan publik kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur SICO Vita Diani Satiadhi menyampaikan bahwa COGS segmen SPBU berada pada kisaran 80%–85% dari pendapatan. Sementara itu, COGS bisnis kompresor berada pada kisaran 309%–359%.

“Dengan meningkatnya kontribusi pendapatan dari segmen SPBU pada tahun berjalan, maka secara konsolidasi hal ini berdampak pada penurunan margin Perseroan. Dengan demikian, penurunan margin bukan disebabkan oleh kenaikan biaya operasional atau tekanan harga, melainkan lebih kepada nature bisnis dari segmen SPBU yang memberikan profit margin lebih rendah dibandingkan bisnis inti Perseroan yaitu penyewaan compressor,” kata Vita dalam laporan Public Expose, Selasa (14/4/2026).

Wakil Direktur Utama SICO Benjamin Jordan Wangsaputera memaparkan sejumlah rencana strategis yang disiapkan perusahaan untuk mendukung pemulihan kinerja dan peningkatan margin. Inisiatif tersebut mencakup penguatan bisnis inti rental compressor agar kontribusi segmen bermargin lebih tinggi meningkat, optimalisasi harga dan kualitas layanan untuk menjaga pricing power, serta efisiensi operasional melalui pengelolaan suku cadang yang lebih efisien dan peningkatan produktivitas serta kapabilitas sumber daya manusia.

“Langkah-langkah ini dilakukan untuk memastikan pertumbuhan yang tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan,” tegas Benjamin dalam laporan yang sama.

Selain strategi operasional, SICO juga menyatakan komitmen pada implementasi teknologi rendah karbon. Menurut Benjamin, teknologi yang digunakan perusahaan berfungsi mengonversi gas suar (flare gas) yang sebelumnya dibakar menjadi gas yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis, sehingga berkontribusi mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi.

Dari sisi teknologi, kompresor yang digunakan juga disebut memiliki konsumsi bahan bakar relatif rendah. Rasio penggunaan bahan bakar terhadap volume gas yang dikompresi berada pada kisaran 1%–2%.

Ke depan, pada 2026 perseroan berencana mulai menjajaki penggunaan kompresor berbasis elektrik yang dinilai memiliki emisi lebih rendah dan efisiensi energi lebih tinggi. Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi perusahaan dalam menghadirkan solusi energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing.