Upaya peningkatan literasi keuangan terus didorong melalui pendekatan kampus sebagai strategi sistemik di Indonesia Timur. Inisiatif ini menempatkan dosen dan tenaga kependidikan sebagai agen perubahan yang diharapkan dapat memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
Program Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) Batch 10 yang diselenggarakan PT Hannah Asa Indonesia digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu pada 13–14 April 2026. Kegiatan ini melibatkan peserta dari Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam.
Program tersebut digelar sebagai respons atas kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan yang dinilai tinggi dengan literasi keuangan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan. Melalui pendekatan berbasis kampus, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam memahami sekaligus mengimplementasikan pengelolaan keuangan secara tepat.
Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Lukman Thahir, menilai transformasi peran dosen penting untuk menjawab perubahan sosial ekonomi saat ini. “Dosen tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai educator, mentor, dan advisor dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Menurut Lukman, kemampuan membimbing pengelolaan keuangan menjadi relevan untuk menjawab tantangan literasi dan inklusi keuangan nasional. Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik dan praktik finansial di masyarakat.
Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan bahwa literasi keuangan perlu melampaui pemahaman menuju perubahan perilaku. “Literasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi sistem dan perilaku dalam pengambilan keputusan finansial,” katanya.
Ia menjelaskan, melalui program AWPS peserta dibekali materi perencanaan keuangan syariah, manajemen utang, pengelolaan zakat, hingga simulasi keuangan berbasis aplikasi. Pendekatan tersebut ditujukan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mardiyah menambahkan, wilayah Indonesia Timur masih menghadapi tantangan literasi keuangan yang disebut berada di bawah rata-rata nasional sehingga membutuhkan pendekatan yang kontekstual. Program ini diharapkan melahirkan financial educator berbasis profesi yang dapat memperkuat kualitas keputusan finansial masyarakat secara berkelanjutan.