Aktivitas dunia usaha di Indonesia pada kuartal I/2026 menunjukkan perlambatan meski masih berada di zona ekspansi. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mencatat saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 10,11%, turun dari 10,61% pada kuartal IV/2025. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang berlangsung selama tiga kuartal berturut-turut.
Sejumlah ekonom menilai perlambatan tersebut terjadi di tengah periode awal tahun yang biasanya ditopang konsumsi musiman. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan permintaan belum merata.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih mencatat ekspansi. Indeks PMI manufaktur berada di level 52,03%, sedikit lebih tinggi dibanding periode sebelumnya. Meski demikian, peningkatan produksi belum diikuti penyerapan tenaga kerja. Indeks tenaga kerja tetap berada di bawah ambang ekspansi, yakni 48,76%, melanjutkan tren kontraksi sejak pertengahan 2025.
Kondisi itu mengindikasikan pertumbuhan produksi lebih banyak ditopang efisiensi dan optimalisasi kapasitas, bukan ekspansi usaha yang agresif. Sejumlah ekonom menilai lemahnya daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah, menjadi faktor yang menahan laju permintaan domestik.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai pelaku usaha kini cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi. Ketidakpastian global, tekanan biaya produksi, serta penjualan yang belum stabil dinilai mendorong perusahaan memilih menjaga likuiditas dan menekan biaya operasional.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai ekspansi yang tercermin dalam PMI lebih merupakan hasil peningkatan produktivitas, bukan ekspansi kapasitas atau pembukaan lapangan kerja baru. Menurutnya, ekonomi masih tumbuh, tetapi dorongannya terbatas karena produksi meningkat tanpa diikuti penciptaan banyak pekerjaan.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga disebut turut memengaruhi. Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dilaporkan berdampak pada biaya produksi dan distribusi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dari sisi pelaku usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah mengambil langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan. Wakil Ketua Umum Kadin Sarman Simanjorang menekankan perlunya memperluas program padat karya, meningkatkan efektivitas bantuan sosial, serta menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
Ia menilai tanpa intervensi yang tepat, dunia usaha akan tetap bersikap defensif dan enggan melakukan ekspansi yang berisiko, termasuk dalam perekrutan tenaga kerja.
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia pada awal 2026 masih tumbuh, tetapi kualitas pertumbuhannya dinilai belum optimal. Aktivitas usaha tetap meningkat dengan laju yang melambat, sementara penciptaan lapangan kerja belum mampu mengikuti kenaikan produksi.