BANDUNG — PT Pintu Kemana Saja (PINTU) memperluas inisiatif edukasi literasi keuangan, termasuk pemahaman terkait investasi aset kripto, dengan menyasar kalangan mahasiswa. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan PINTU Goes to Campus bertajuk Financial Literacy yang digelar di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Acara ini diikuti lebih dari 200 mahasiswa dan diisi dengan penyerahan penghargaan kepada delapan mahasiswa Unpad berprestasi. Kegiatan tersebut juga melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pihak kampus sebagai bagian dari kolaborasi penguatan literasi.
Chief Marketing Officer PINTU Timothius Martin mengatakan, tantangan utama dalam perkembangan investasi kripto adalah penguatan literasi dan edukasi. Ia memaparkan, secara global sekitar 700 juta orang telah melakukan perdagangan atau investasi kripto, atau setara sekitar 1 dari 15 orang.
“Untuk di Indonesia, angka adopsi mencapai 21 juta orang. Ini lebih besar dibandingkan investor saham. Jadi yang menjadi tantangan itu adalah literasi dan edukasinya,” kata Timothius Martin pada Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, PINTU menggandeng OJK dan perguruan tinggi untuk memperluas literasi ke kampus-kampus. Tujuannya agar mahasiswa memiliki pemahaman yang matang sebelum memulai investasi, termasuk pada aset kripto.
Timothius juga menyebut minat generasi muda terhadap investasi digital di industri kripto terus bertumbuh. Berdasarkan data OJK per Februari 2026, jumlah investor aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta. Sementara itu, World Economic Forum mencatat sekitar 42 persen investor Gen Z secara global telah memiliki aset kripto.
Ia menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam di tengah cepatnya perkembangan industri dan pengaruh faktor global terhadap pasar. “Di tengah perkembangan industri yang cepat dan berbagai faktor global yang memengaruhi pasar, penting bagi generasi muda tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami investasi secara mendalam. Kami akan terus berkomitmen untuk menghadirkan ruang belajar agar generasi muda dapat membangun pemahaman yang matang dan mengambil keputusan finansial secara bijak,” ujarnya.
Dari sisi regulator, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Djoko Kurnijanto menyoroti masih adanya kesenjangan antara literasi dan inklusi pada investasi aset kripto. Kondisi ini, kata dia, mendorong OJK untuk terus melakukan langkah-langkah agar masyarakat tidak berinvestasi hanya karena ikut-ikutan.
Djoko mengingatkan prinsip “2L” yang menurutnya relevan untuk investasi, yakni Legal dan Logis. Ia menekankan pentingnya memastikan legalitas aset keuangan digital serta bertransaksi melalui exchange atau Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berlisensi dan diawasi OJK. Selain itu, ia mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan pasti.
Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi PINTU dan OJK tersebut. Ia menilai literasi keuangan, termasuk literasi kripto dan investasi, penting dipahami mahasiswa mengingat banyaknya produk keuangan dan potensi persoalan yang dapat muncul apabila tidak dipelajari dengan baik.
“Memang kelihatannya mengenai literasi keuangan, bahkan sekarang literasi crypto dan juga investasi, ini merupakan hal yang sangat penting yang harus kita pahami bersama. Karena kita tahu sekarang begitu banyaknya produk keuangan, begitu banyaknya masalah-masalah keuangan yang kalau kita tidak pelajari secara baik, kalau kita tidak kenal, maka ini akan menyebabkan hal-hal yang menjadi permasalahan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk kita mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” kata Arief.
Kegiatan literasi keuangan di Unpad turut dihadiri Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 OJK Provinsi Jawa Barat Melati Usman, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad Dian Masyita, serta SVP Strategy & Business PINTU Andy Putra.