JAKARTA — Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP-ISEI) berkolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) menggelar diskusi strategis dalam rangkaian Halal Bihalal bertajuk “Mengembangkan Ekonomi Syariah yang Adaptif dan Inklusif: Menggali Pemikiran Profesor Sumitro Djojohadikusumo”. Kegiatan ini berlangsung di Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta Pusat, Selasa (14/4).
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara sekaligus Wakil Ketua Dewan Pengawas ISEI Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia sekaligus Ketua Bidang Perumusan Kebijakan Makroekonomi dan Keuangan PP ISEI Aida S. Budiman, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Zulverdi.
Acara dibuka oleh Wakil Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia sekaligus Ketua FG Ekonomi dan Keuangan Syariah PP ISEI, Bob T. Ananta. Dalam sambutannya, Bob menyinggung peran BSI dari sisi aset dan dana sosial. Ia menyebut dana zakat korporasi yang dikeluarkan BSI sebesar Rp232,1 miliar, sementara zakat nasabah dan pegawai sebesar Rp36,5 miliar. “Jika BSI mendapatkan keuntungan tak terhingga maka BSI akan memberikan kebermanfaatan yang tak terhingga juga,” ujar Bob.
Ketua Dewan Komisioner LPS sekaligus Wakil Ketua I PP ISEI, Anggito Abimanyu, turut mengapresiasi perkembangan BSI sejak merger pada 2021. Ia menyampaikan aset BSI pada tahun pertama merger sekitar Rp265,29 triliun dan disebut meningkat menjadi Rp456,19 triliun pada akhir 2025. Anggito juga menilai pemikiran Profesor Sumitro Djojohadikusumo memiliki keselarasan dengan karakteristik ekonomi syariah.
Diskusi panel menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia sekaligus Pengurus FG Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI Murniati Mukhlisin, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) sekaligus Wakil Ketua FG Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI Sutan Emir Hidayat, Ekonom Ahli Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia sekaligus Pengurus FG Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI Ali Sakti, serta Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo.
Murniati yang juga memimpin Sakinah Finance menyampaikan simpulan diskusi panel bahwa pendekatan syariah pada dasarnya bertujuan mengangkat martabat manusia melalui sistem yang berkeadilan. Menurutnya, implementasi syariah perlu bergerak sistematis, dimulai dari tatanan keluarga sebagai unit terkecil hingga masuk ke ranah kebijakan agar berdampak lebih luas.
Ia menilai visi tersebut selaras dengan pemikiran Profesor Sumitro Djojohadikusumo, meski pada masanya Sumitro tidak secara khusus membahas ekonomi syariah. Murniati memaparkan lima pilar utama pemikiran Sumitro yang dapat dikaitkan dengan pengembangan ekonomi syariah, yakni kemandirian ekonomi melalui penguatan keluarga sebagai pondasi ketahanan ekonomi berbasis nilai syariah; ekonomi kerakyatan yang mendorong basis keluarga masuk ke sektor riil bisnis syariah dan keuangan syariah; penguatan sumber daya manusia dan pembangunan melalui dorongan kebijakan agar talenta syariah memiliki kemampuan inovasi dan teknologi digital; ekonomi inklusif yang mendukung pemerataan manfaat termasuk bagi kelompok disabilitas; serta perdagangan internasional melalui penguatan ekonomi syariah domestik agar dapat berkembang lintas negara dalam aktivitas ekspor-impor.
Dalam kesempatan itu, Murniati—yang disebut sebagai Madam Ani—juga menggarisbawahi pentingnya integrasi ekosistem melalui model ABG-MAC, yakni kolaborasi antara Academics, Business, dan Government yang didukung oleh Media, Aggregator, dan Community. “Dengan adanya integrasi yang solid antara akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, media, agregator, hingga komunitas, kita dapat mencapai tujuan bersama, yaitu menguatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia secara masif,” ujarnya.
Acara yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00 WIB itu dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai pemangku kepentingan. Para peserta disebut berkomitmen mendorong terwujudnya ekosistem ekonomi syariah yang lebih inklusif dan berdaya saing global.