Dunia usaha nasional menghadapi tekanan berat akibat gangguan rantai pasok yang dipicu konflik di Timur Tengah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut kondisi tersebut membuat bahan baku impor, terutama plastik, menjadi langka dan mahal.
Situasi ini memunculkan keraguan di kalangan pelaku industri untuk mempertahankan produksi hingga akhir April–Mei. Dampaknya dirasakan di sejumlah sektor, mulai dari makanan dan minuman, tekstil, hingga manufaktur.
Tekanan terhadap industri dinilai semakin besar karena terjadi pelemahan ekonomi dan daya beli. Di tengah kondisi itu, Apindo mengungkapkan sebanyak 67% perusahaan tidak berencana merekrut tenaga kerja baru.
Sementara itu, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan bahwa ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) kian nyata. KSPI menyebut sedikitnya 10 perusahaan di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Jawa Tengah mulai melakukan antisipasi dalam tiga bulan ke depan, dengan potensi dampak mencapai 9.000 pekerja.
Lonjakan biaya produksi dan tekanan efisiensi membuat pekerja, terutama di sektor padat karya, semakin rentan kehilangan pekerjaan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat total PHK sejak awal tahun hingga Maret 2026 telah mencapai 8.389 orang.