Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri reli penguatan dalam sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026), IHSG turun 0,68% atau berkurang 52,36 poin ke level 7.623,58.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona hijau. Namun, indeks berbalik melemah sekitar satu jam sebelum pasar tutup.
Pelemahan ini menjadi koreksi pertama setelah IHSG mencatat penguatan beruntun dalam sepekan. Mengacu data bursa, pada periode 7 April hingga 14 April 2026, IHSG melesat 8,66%.
Aktivitas transaksi pada perdagangan hari ini tercatat ramai. Nilai transaksi mencapai Rp 22,61 triliun dengan volume 51,44 miliar saham yang berpindah tangan dalam 3,16 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat menjadi Rp 13.606 triliun.
Secara sektoral, mayoritas sektor melemah. Koreksi terdalam terjadi pada sektor kesehatan, konsumer non-primer, dan finansial. Di sisi lain, sektor industri, konsumer primer, dan energi mencatat penguatan tertinggi.
Sejumlah emiten berkontribusi besar menekan pergerakan indeks. Sepuluh saham dengan sumbangsih pelemahan poin terbesar antara lain BBCA, SRAJ, MSIN, TPIA, BRPT, AMMN, BUMI, serta tiga emiten BUMN yakni BBRI, BMRI, dan TLKM.
Pergerakan IHSG turut sejalan dengan bursa kawasan. Bursa Asia melanjutkan reli pada awal perdagangan, di tengah harapan gencatan senjata terkait ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menyatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran dapat kembali dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan, setelah gagalnya negosiasi akhir pekan lalu mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sejumlah pejabat dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran juga menyebut tim negosiasi AS dan Iran kemungkinan kembali ke Pakistan pekan ini, meski seorang sumber senior Iran mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan.
Trump dalam wawancara dengan New York Post mengatakan, “Anda sebaiknya tetap berada di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong ke sana.”
Di tengah blokade AS yang memicu retorika keras dari Teheran, sinyal bahwa jalur diplomasi masih berlanjut turut menenangkan pasar minyak. Harga acuan dilaporkan turun di bawah US$100 pada Selasa.
Namun, pasar global masih mencari kepastian mengenai kekuatan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah potensi suku bunga yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama, seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap kenaikan harga minyak.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi karena perang di Timur Tengah serta gangguan pengiriman di Selat Hormuz. Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1% tahun ini, turun dari proyeksi 3,3% pada Januari 2026.
IMF menyusun beberapa skenario, mulai dari ringan hingga parah. Dalam skenario terburuk, ekonomi dunia disebut nyaris resesi, dengan harga minyak rata-rata US$110 per barel pada 2026 dan US$125 pada 2027. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan global berpotensi turun ke 2,0%.
Skenario dasar IMF mengasumsikan konflik berlangsung singkat dan harga minyak turun ke rata-rata US$82 per barel pada 2026. Namun, ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut kondisi saat ini sudah bergerak ke skenario yang lebih buruk.
Dampak terbesar diperkirakan terjadi pada negara berkembang serta kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, dengan proyeksi pertumbuhan kawasan tersebut turun menjadi 1,9% pada 2026. Untuk proyeksi negara besar, IMF memperkirakan ekonomi Amerika Serikat tumbuh 2,3%, zona Euro 1,1%, China 4,4%, dan India 6,5%. Sementara untuk Indonesia, IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan di level 5,0%.